Oleh: Eka Wartana
“Overthinking” sudah sangat populer. Tapi tidak dengan “oversensitive”. Pada hal pemicu dari overthinking itu adalah oversensitive.
Reaksi yang terlalu sensitive sering menimbulkan masalah dalam hubungan antar manusia. Bayangkan alarm mobil, yang terlalu sensitive menimbulkan masalah. Ada kucing lewat di depan nya, alarm berbunyi. Ada angin sedikit, alarm bunyi. Pemilik mobil tidak merasa nyaman, apalagi orang lain….
Oversensitive juga menjadi sumber stress bagi orang nya. Asumsi nya sering negative. Perasaan nya sangat peka sehingga logika nya terabaikan.
Contoh. Seorang karyawan merasa tidak disenangi hanya karena boss nya mengatakan:”Proposal mu kurang meyakinkan”. Padahal atasan nya bersikap objektif. Ini mengakibatkan hubungan yang berjarak dengan si boss dan prestasi kerja nya begitu begitu saja.
Candaan pun sering membuat seseorang marah. Bergurau dianggap serius. Salah persepsi dan interpretasi. Lebih parah lagi reaksi terhadap kritik.
Dalam salah satu tulisan saya, saya mengatakan masih ada trainer yang keliru menafsirkan teori 55-37-8 dari Mehrabian dan ajaran Daniel Goleman tentang peran EQ vs IQ. Ada seorang rekan yang memberi saran bagus, supaya artikel jangan sampai menyinggung orang lain. Ada nada kekhawatiran dari beliau untuk pembaca yang sensitive…..
Emosi sering bereaksi terlalu cepat.
Sedikit tersinggung, marah.
Sedikit dikritik, merasa diserang.
Sedikit diabaikan, merasa tidak disukai.
Sesungguh nya, ada dua sisi dari sensitifitas: oversensitive dan insensitive. Yang satu sangat sensitif, yang satunya tidak sensitif. Kedua nya bertentangan dalam arti nya. Tapi kedua nya memiliki persamaan: sama sama sumber problem!
Di sinilah letak uniknya kehidupan.
Terlalu sensitif: mudah tersinggung, overthinking, cepat bereaksi, mudah salah paham.
Tapi kurang sensitif juga bermasalah: cuek, tidak peduli perasaan orang, tidak peka situasi, kasar dalam komunikasi.
Jadi solusi bukan salah satu nya, tapi keseimbangan antara sensitifitas dan rasionalitas.
Vonis Tanpa Bukti
Ini kebiasaan berbahaya.
Belum tahu fakta lengkap, sudah mengambil kesimpulan.
Belum klarifikasi, sudah marah.
Belum ada bukti, sudah memvonis.
Padahal, pikiran manusia sangat dipengaruhi: emosi, ego, prasangka, insecurity, trauma
Cara Memaknai nya Menentukan Reaksi
Dua orang bisa menerima ucapan yang sama, tapi reaksinya berbeda total.
Orang pertama: “Oh, mungkin dia lagi capek.”
Orang kedua: “Dia menghina saya!”
Masalahnya bukan selalu pada kejadian.
Tapi: pada interpretasi terhadap kejadian.
Tidak Bicara, Tapi Menyimpan Dendam
Ini problem klasik komunikasi.
Merasa tersinggung, tapi diam.
Merasa kecewa, tapi dipendam.
Merasa sakit hati, tapi tidak diklarifikasi.
Akibatnya? Emosi berkembang sendiri, semakin lama semakin besar.
Akhirnya hubungan rusak hanya karena: hal yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan percakapan sederhana.
Asumsi: Bukti Palsu yang Sering Dipercaya
Asumsi itu lemah karena: tidak berdasarkan fakta lengkap.
Tapi anehnya, manusia sering lebih percaya asumsi daripada klarifikasi.
“Dia pasti sengaja.”
“Dia pasti tidak suka saya.”
“Dia menyindir saya.”
“Dia meremehkan saya.”
Padahal: belum tentu.
Manusia sering membuat “film sendiri” di dalam kepalanya.
Sayangnya: sutradara, penulis skenario, sekaligus pemeran utamanya adalah dirinya sendiri.
Masalah Besar Sering Dimulai dari Hal Kecil
Lucunya, banyak konflik besar dimulai dari hal sepele.
Tidak dibalas chat.
Nada bicara dianggap sinis.
Ekspresi wajah dianggap meremehkan.
Status WA dianggap menyindir.
Lalu muncul:
- asumsi,
- prasangka,
- emosi,
- dendam diam diam.
Padahal belum tentu benar.
Pembelajaran:
Adakah cara cara untuk mengatasi oversensitive ini?
Tentu ada. Nantikan artikel berikut nya ya…..
Salam Relative-Contradictive,
Eka Wartana
Founder, Master Trainer, The MindWeb Way of Thinking
Professional Licensed Trainer, MWS International
Author: Relative-Contradictive, Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking, MindWeb
Over 30 years of experience in various managerial positions
Website: www.mindwebway.com
#mindwebway #mindweb #berpikirtanpamikir #ekawartana #relativecontradictive #karyaanakbangsa #interconnection #oversensitive #insensitive #overthinking







