Oleh: Eka Wartana
“Konsistensi adalah kunci sukses.”
Hampir semua orang percaya kalimat itu.
Benarkah itu? Bisa benar, bisa tidak.
Benar
Kalau konsistensi itu didukung oleh beberapa hal lain ini:
° Flexibility, mengikuti perubahan yang terjadi (Change)
° Continuous Improvement, secara konsisten mencari cara yang lebih efisien dan efektif
Kontradiksi ya, kok konsisten berpartner dengan perubahan?
Ini relevan dengan ungkapan Heraclitus:”There is nothing permanent except change”
Consistency dan change sebenarnya bukan berlawanan, melainkan dua mekanisme yang saling mengontrol.
- Consistency menjaga stabilitas, membangun kepercayaan, disiplin, dan keahlian.
- Change menjaga relevansi, adaptasi, inovasi, dan kelangsungan hidup.
Tidak benar
Kalau konsistensi dilakukan dengan cara yang sama terus menerus, monoton tanpa mempertimbangkan perubahan situasi dan kondisi lingkungan.
“Jangan konsisten terhadap cara. Konsistenlah terhadap tujuan.”
Ketika lingkungan berubah, cara harus berubah agar tujuan tetap tercapai.
Consistency ini bisa dilihat dari dua sudut:
1. Static Consistency
Tetap melakukan sesuatu dengan cara yang sama.
Contoh: memakai SOP yang sama terus, menjual produk yang sama, memakai teknologi lama, mengajar dengan metode lama
Ini memang konsisten. Tetapi belum tentu efektif dan efisien ketika situasi berubah
2. Dynamic Consistency
Konsisten melakukan perbaikan ke arah improvement
Yang dijaga adalah tujuannya. Yang disempurnakan adalah caranya.
Toyota adalah contoh terbaik. Mereka terkenal dengan konsep Kaizen.
Setiap hari ada perubahan kecil. Kalau dilihat setiap hari, hampir tidak terasa.
Tetapi setelah 20 tahun, perusahaannya berubah luar biasa.
Artinya… Yang konsisten justru perubahan itu sendiri.
Apakah seorang atlet berlatih dengan program yang sama selama bertahun-tahun?
Tidak. Semuanya berubah: program, beban latihan, menu makan, teknik, taktik, target.
Yang tidak berubah adalah…komitmennya untuk terus berkembang.
Jadi sebenarnya dia tidak konsisten terhadap latihan tertentu.
Kita bisa melihat konsistensi dari berbagai sudut:
- Action: Melakukan tindakan yang sama. Misalnya jogging setiap pagi.
- Habit: Mempertahankan kebiasaan yang sama terus.
- Principle: Prinsipnya tetap. Caranya boleh berubah.
Misalnya: “Customer First” Dulu melalui kunjungan, lalu telepon, sekarang melalui AI, besok mungkin melalui robot.
- Growth:
Konsisten memperbaiki dan mengembangkan diri. Hari ini sedikit lebih baik daripada kemarin. Besok sedikit lebih baik daripada hari ini.
Perubahan besar adalah akumulasi dari perubahan-perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Orang biasanya menghubungkan consistency dengan pengulangan.
Semestinya consistency adalah tentang komitmen.
Sedangkan perubahan adalah metodenya.
Consistency = komitmen yang terus-menerus untuk mencapai tujuan melalui perbaikan yang berkelanjutan.
“Perubahan yang konsisten menghasilkan stabilitas.
Konsistensi yang tidak mau berubah menghasilkan stagnasi.”
Banyak orang mengira konsistensi berarti mengulang hal yang sama.
Padahal konsistensi yang sesungguhnya adalah komitmen untuk terus menjadi lebih baik.
Perubahan bukan lawan dari konsistensi.
Perubahan adalah cara agar konsistensi tetap relevan.
Salam Relative-Contradictive,
Eka Wartana
Founder, Master Trainer, The MindWeb Way of Thinking
Professional Licensed Trainer, MWS International
Author: Relative-Contradictive, Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking, MindWeb
Over 30 years of experience in various managerial positions
Website: www.mindwebway.com
#mindwebway #mindweb #berpikirtanpamikir #ekawartana #relativecontradictive #karyaanakbangsa #interconnection #consistency #change







