Perilakunya bisa sama, tetapi motivasinya berbeda
Oleh: Eka Wartana – The MindWeb Way
Banyak orang menganggap egois selalu buruk.
Sebaliknya, banyak pula yang menganggap mencari pengakuan dari orang lain adalah sesuatu yang wajar.
Benarkah? Mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda.
Mobil mewah
Membeli mobil : untuk kenyamanan atau untuk status.
Ada orang membeli mobil mewah karena memang menikmati kenyamanan, keamanan, dan kualitasnya.
Ada juga yang membeli mobil mewah agar dianggap sukses.
Mobilnya sama, harganya sama. Tapi motivasinya berbeda.
Yang satu mencari kepuasan diri.
Yang satunya lagi mencari pengakuan orang lain.
Di sinilah mulai terlihat perbedaan antara egois dan egosentris.
Orang egois berpusat pada kepentingan dirinya.
Orang egosentris lebih berpusat pada citra dirinya di mata orang lain.
Perbedaannya tipis, tetapi dampaknya besar.
Barang Mewah
Jam tangan mahal. Sepatu bermerek. Tas premium. Ponsel tercanggih.
Pertanyaannya bukan: Apa yang Anda beli?
Tetapi: Untuk siapa Anda membelinya?
Untuk diri sendiri…atau untuk konsumsi sosial?
Kadang-kadang kita tidak membeli barang.
Kita membeli pengakuan.
Bantu Teman atau Saudara?
Membantu orang → karena empati atau karena reputasi.
Ada dilema lain yang menarik.
Dalam banyak ajaran agama, kita dianjurkan membantu orang yang paling dekat terlebih dahulu: keluarga, saudara, kerabat, kemudian baru orang lain.
Namun kehidupan sosial sering berjalan berbeda. Mengapa?
Karena membantu saudara sering dianggap biasa.
Tidak banyak yang tahu. Tidak banyak yang memuji.
Sebaliknya, membantu teman sering kali lebih terlihat.
Semakin banyak teman yang tahu, semakin besar pula reputasi yang diperoleh.
Pertanyaannya menjadi menarik:
Apakah kita membantu karena ingin menolong… atau karena ingin dikenal sebagai penolong?
Mobil Ceper
Anak muda banyak yang memodifikasi mobil menjadi sangat rendah.
Kelihatannya keren. Banyak orang menoleh. Banyak yang memotretnya.
Namun pemiliknya sendiri harus ekstra hati-hati melewati polisi tidur.
Kadang penumpang tidak nyaman karena suspensinya menjadi keras.
Bahkan pengendara di belakang ikut kesal karena mobil itu harus berjalan sangat pelan.
Pertanyaannya sederhana:
Mobil itu dibuat untuk dinikmati pemiliknya… atau untuk kenikmatan mata orang yang melihatnya?
Parfum
Memakai parfum: untuk diri sendiri atau agar dipuji orang
Mengapa orang memakai parfum?
Jawabannya ternyata bermacam-macam.
Ada yang ingin disukai orang lain.
Ada yang ingin menutupi bau badan.
Ada yang ingin tampil lebih percaya diri.
Atau?
Dia memakai parfum karena menikmati aromanya.
Kalau orang lain ikut menyukainya, itu bonus.
Siapa Penontonnya?
Di era media sosial, hampir semua hal dapat dipublikasikan.
Makan dipotret. Liburan dipotret. Donasi dipotret. Bahkan membantu orang pun kadang harus dipotret. Bukan berarti semuanya salah.
Tetapi ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri:
Kalau tidak ada seorang pun yang melihatnya, apakah saya tetap akan melakukannya?
Jawaban atas pertanyaan itu sering kali mengungkap motivasi yang sebenarnya.
Penutup
Banyak tindakan terlihat sama.
Namun nilai sebuah tindakan sering ditentukan oleh niat di baliknya.
Mungkin sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
Apakah saya sedang mencari KEPUASAN… atau sedang mencari PENGAGUM?
Karena dalam hidup, tidak semua yang tampak “baik” dilakukan demi kebaikan.
Dan tidak semua yang tampak “egois” dilakukan demi diri sendiri.
“Banyak orang tidak membeli barang. Mereka membeli tepuk tangan.”
Salam The MindWeb Way,
Eka Wartana
Founder, Master Trainer, The MindWeb Way of Thinking
Professional Licensed Trainer, MWS International
Author: Relative-Contradictive, Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking
Over 30 years of experience in various managerial positions
Website: www.mindwebway.com
#mindwebway #mindweb #berpikirtanpamikir #ekawartana #relativecontradictive #karyaanakbangsa #interconnection #satisfaction #validation #kenyamanan #status







