Toxic Leader 2 (Lanjutan)

admin 22/08/2014 0

“TOXIC LEADER”

Mengenal, Menghadapi Dan Mengelola Boss Bermasalah! (Lanjutan)

Smart Emotion Radio Talk, 20 Agustus 2014

Bp Anthony Dio Martin

 “Begitu banyak kah Toxic Leader di organisasi kita saat ini? ”Begitulah kesimpulan yang diperoleh setelah sesi pertama dari radiotalk minggu lalu yang membahas soal “Toxic Leader”.Ternyata ada banyak pertanyaan juga “curhat” melalui twitter, email maupun SMS diterima oleh pihak SmartFM, terkait dengan topik Toxic Leader ini.

Karena itulah pada kesempatan ini, Bp. Anthony Dio Martin sebagai pakar Kecerdasan Emosional di Indonesia meluangkan kesempatan lagi khusus menjawab pertanyaan, serta mengomentari SMS, ataupun komentar yang diterima terkait dengan topik ini.

 Belajar dari film “Devil Wears Prada!”

  • Konon diinspirasikan dari pimpinan majalah Vogue, Anne Wintour
  • Ciri-ciri Toxic Leader yang digambarkan dalam film ini:
  1. I own you! (aku bisa perlakukan kamu semauku)
  2. Don’t question! (aku membayar kamu utk bekerja, bukan bertanya)
  3. Sarkastis (“saya bingung kenapa merekrut cewek pendek dan gemuk kayak kamu, yg nggak punya selera fashion. Dan ternyata kamu sama bodohnya dan lebih memalukan lagi”)
  4. Not easy to pleased (bahkan tidak ada pujian, meski sdh melakukan yang spektakuler)
  5. Atmosfir tegang. Aroma sekitar org itu menakutkan,menegangkan! Takut salah!

Penelepon:

Sulkifly

Saya punya pengalaman dengan Toxic Leader, saya pernah di pimpin oleh 6 pimpinan cabang, salah 1 dari mereka, banyak yang bilang beliau adalah seorang toxic leader. Tapi saya justru melihatnya berbeda, pada saat saya dipimpin oleh beliau, saya mencoba belajar lebih dalam tentang apa yang beliau harapkan. Misalnya: Beliau sangat marah ketika pagi hari kita belum memberikan laporan, jadi saya selalu memberikan laporan sebelum beliau minta. Jadinya, walaupun beliau marah-marah kepada karyawan lainnya, tetapi kepada saya, tidak pernah marah.

 ADM: Toxic Boss pasti mempunyai 1 ekspektasi, dan itu beragam, sebaiknya memang kita bisa belajar patternnya si Boss, dengan melihat titik-titk lemahnya untuk menaklukan hati Boss, salah satunya adalah dengan cara Antisipasi yaitu melakukan yang dia harapkan.

Ria

Saya mau Tanya, bagaimana cara menghandle Toxic Leader?? Banyak Hak Karyawan yang tidak diberikan.dan merugikan kesejahteraan karyawan.

 Toto

Boss saya tidak berani bertatapan langsung dengan karyawan, jadi kalau mau ngomong di belakang, sangat nyebelin… apa hal yang cocok dilakukan??

ADM: Lihat cuaca dan suasana bagus, talk to her/him personally, mungkin dia tidak sadar. Bingkai cara bicara Anda. Jangan mempermalukannya. Misalnya: “Mungkin Bapak tidak tahu….” atau “Mungkin Ibu tak menyadari…” atau “Mungkin sebetulnya Bapak tidak bermaksud …”

Kalau bicara juga nggak mempan? 2 Pilihan:

(1) Stay, tetap bekerja karena Anda masih berkembang. Lupakan atasanmu!

(2) Go away, pergi saja, hidup terlalu singkat dihabiskan dengan atasan seperti itu!

Gimana Cara Memecat Toxic Boss!

(Tips Marie McIntyre, “Secrets to Winning at Office Politics”)

Langka & sulit terjadi, karena dia punya kekuatan lebih besar! Powernya lebih kuat!

  1. Bangun kekuatanmu. Kamu harus menjadi pekerja yang dikenal credible dengan tugas-tugasmu dan selesai!
  2. Bangun sekutu, orang-orang yang memang tidak menyukai dan merasa terganggu oleh dia!
  3. Jangan complain, tapi tunjukkan business case: akibat si boss itu kerugiannya bagaimana? (nada complain yang professional)
  4. Lakukan network dengan orang di atas boss-mu!
  5. Sabarlah, butuh waktu untuk ditendang. Manajemen nggak akan gampang lepasin dia!

  “Atasan saya tipe yang royal dan suka kasih kerjaan, sampai-sampai nggak peduli Sabtu dan Minggu!”

  • Sisi positif: Anda kompeten dan dipercaya.
  • Tetapkan batas pekerjaan, kalau perlu, tiap awal minggu, kamu yang datang dan bicarakan apa yang diharapkan dari kamu untuk kerjakan!
  • Kalau sudah mulai mengganggu Sabtu dan Minggu, bikin status di BB urusan dengan keluarga dan kalaupun dia telpon katakan, “Saya minggu ini sudah lama tidak bermain dengan anak saya atau saya sudah berjanji dengan anak saya”. Dan katakan kalau kita akan selesaikan pas besok masuk kantor.
  • Bicara soal perilakunya. Sesudah itu, kalau dia telpon Sabtu dan Minggu, jangan langsung dijawab! Beberapa jam kemudian baru balas, tapi dengan kalimat, “Maaf pak saya baru bersama anak saya berenang”. (Tapi ini tergantung juga pada perjanjian kerja dengan atasan, di waktu awal masuk kerja. Masalahnya ada pekerjaaan yang memang harus bisa dikerjakan bahkan di hari Sabtu dan Minggu)

 

INFORMASI PENTING:

Sekarang era COACHING!!!

Leader harus punya kemampuan melakukan coaching kepada anak buahnya.

Kuasai skills dan kemampuan yang terbukti sangat ampuh ini yakni:

“COACHING & COUNSELING FOR LEADER”

Hotel Santika Premiere, Jakarta  – 22-23 September 2014

 Semua hal tentang ide ‘Pengembangan Orang’ yang menjadi Kompetensi Kepemimpinan dipelajari disini!

(5 Level Leadership John Maxwell, MBTI, Grassroot Leadership, Performance Analysis Robert Mager – Peter Pike, Excellency Interaction Process, Leadership Deception Arbinger Institute)

Informasi dan Pendaftaran: 021-3518505

 Best regards,

Stephanie Natalia

 

 

Leave A Response »