Ketika Rahasia Tidak Lagi Rahasia

Eka Wartana 26/08/2026 0
Ketika Rahasia Tidak Lagi Rahasia

Oleh: Eka Wartana

Dulu orang punya diary.

Buku kecil yang menyimpan rahasia, harapan, kekecewaan, bahkan kisah cinta yang gagal sebelum sempat dimulai.

Kalau sedang sedih, mereka menulis.

Kalau sedang marah, mereka menulis.

Kalau sedang jatuh cinta, mereka juga menulis.

Pembacanya hanya satu orang: dirinya sendiri.

Sekarang? 

Diary itu sudah pindah ‘rumah’ ke media sosial.

Perasaan yang dulu ditulis diam-diam kini berubah menjadi status, story, postingan, atau tweet yang bisa dibaca ratusan bahkan ribuan orang.

Dari private secret (rahasia pribadi) berubah menjadi public secret (rahasia umum). Kalau sudah begitu apa nya yang ‘secret’….?

Menariknya, yang berubah bukan hanya medianya.

Tujuannya pun ikut berubah.

Diary membantu seseorang berbicara kepada dirinya sendiri.

Media sosial sering kali dipakai untuk berbicara kepada orang lain. 

Atau mungkin lebih tepatnya: agar memperoleh perhatian dari orang lain

Kadang kita menemukan status seperti:

“Ternyata tidak semua orang bisa dipercaya.”

Atau: “Cukup tahu saja.”

Atau yang lebih misterius: “Ya sudahlah.”

Pembacanya langsung sibuk berpikir.

Siapa yang dimaksud? Apa yang telah terjadi? Siapa pelakunya?

Sementara penulisnya menikmati rasa penasaran yang ditimbulkan.

Curhat berubah menjadi teka-teki publik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia bukan hanya ingin berbicara.

Mereka juga ingin didengar.

Bahkan kadang ingin dimengerti tanpa perlu menjelaskan.

Masalahnya, media sosial tidak selalu menjadi tempat yang aman untuk curhat.

Ketika emosi sedang tinggi, orang mudah menulis sesuatu yang kemudian disesalinya.

Dulu diary disimpan di laci.

Sekarang jejak digital bisa disimpan oleh siapa saja.

Bahkan ketika postingannya sudah dihapus.

Ada satu hal yang menarik untuk direnungkan.

Mungkin yang berubah bukan kebiasaan manusia untuk curhat.

Manusia memang sejak dulu suka bercerita.

Yang berubah adalah media dan audiensnya.

 Dulu curhatan ditulis di buku diary, sekarang di medi sosial.

Dulu curhat dilakukan kepada diri sendiri.

Sekarang dilakukan kepada dunia.

Apakah meereka sedang mencari solusi?

Atau sedang mencari penonton?

Padahal orang lain itu mungkin tidak peduli. Atau bahkan bersyukur atas kegalauan si penulis….?

Dia menulis status di media sosial dengan harapan mendapat perhatian, simpati dari orang lain. Tapi apa yang mereka peroleh?

Ada yang bersimpati. Ada yang memuji. Ada yang memberi nasihat. Ada yang berusaha memotivasi. Tapi ada juga yang memberi reaksi negative: mencemooh (baper lo), bersyukur (rasain!), merasa iri dengan kemesraan yang dipamerkan. Bahkan ada yang membalas kemarahan dengan umpatan.  

Itulah risiko bermain di ranah public…..

Pertanyaan nya:

Apakah ini gejala perubahan cara komunikasi antar generasi? Adakah Gen X, Baby Boomer yang ikutan seperti itu?  

Apakah ini tanda tanda bahwa manusia semakin sensitive perasaan nya…..?

Apakah ini tanda tanda bahwa kadar ‘rahasia’ semakin luntur…..?

Sekiranya mereka melamar pekerjaan, apakah kandidat yang baper, pemarah, pengumbar rahasia di medsos akan diterima sebagai karyawan Anda……?  

Media sosial membuat komunikasi semakin banyak, tetapi belum tentu membuat hubungan semakin dalam

Salam Relative-Contradictive,

Eka Wartana

#berpikirtanpamikir #mindwebway #relativecontradictive #karyaanakbangsa #curhat #rahasia #mediasosial #diary

Leave A Response »