Belajar Dari Koruptor

Eka Wartana 24/09/2026 0
Belajar Dari Koruptor

Oleh: Eka Wartana

Yang pasti, ini belajar dari koruptor, bukan belajar menjadi koruptor lho….

Tidak ada salah nya untuk belajar dari hal hal yang negative.

Karena:

“Dalam hal hal yang negative,

selalu ada hal hal positive yang tersembunyi di dalam nya”

Kalimat itu ada bau bau generaisasi memang. Sesungguhnya sebagian dari generalisasi ada benarnya juga. Ayo kita lihat ….

Perbuatan para koruptor pun, bisa memberikan inspirasi yang baik.  Ah, masak sih….?

Apa yang bisa kita pelajari dari para koruptor?

Kerjasama.

Membangun teamwork merupakan tantangan tersendiri. Dalam Perusahaan. Antar karyawan, antar bagian sering terlibat terjadinya persaingan yang tidak sehat. Ego sering lebih berkuasa dari kepentingan bersama. Ada yang tega menginjak teman supaya bisa naik keatas. Semua nya demi prestasi dan prestise.

Lain hal nya dengan koruptor. Mereka menjaga kerja sama yang kompak. Saling membantu dan saling melindungi. Mereka saling berbagi bagaimana cara korupsi yang aman.

Berbagi.

Mereka senang berbagi. Baik dengan bawahan, kolega, apalagi atasan. Setoran tidak pernah lewat.

Dalam profesi, masing masing karyawan cenderung untuk “menyimpan” sendiri keahlian nya. “Gue nyari ilmu nya capek capek, masak orang lain mau enak nya mengambil dariku”. Mereka takut tersaingi oleh kolega nya. Para atasan pun sama pelit nya berbagi ilmu. Mereka khawatir kalau nanti bawahan nya menggusurnya.

Sekiranya, karyawan mau saling berbagi, maka mereka akan maju bersama. Dampak baik nya akan dinikmati oleh Perusahaan juga.

Menjaga Rahasia

Mereka kompak menjaga kerahasiaan supaya jangan sampai terbongkar. Tranfer dana dihindari karena mudah dilacak. Mainannya cash semua. Duit miliaran, bahkan triliunan disimpan dalam bunker di rumah nya.

Pantas saja uang yang beredar bisa berkurang. Pantas ekonomi kurang bergairah.

Beda dengan rahasia dalam profesi karyawan. Gaji yang seharusnya rahasia, bisa saling tahu gaji orang lain. Rahasia Perusahaan? Kadang “di jual”. Ada aja cara competitor mengintip rahasia Perusahaan saingan nya.

Ada nih kisah nyata. Seorang karyawan Perusahaan mengadakan pendekatan dengan  sekretaris competitor. Dia berhasil memacari wanita itu. Dari situ mengalir informasi tentang si competitor (penjualan, harga jual, customer, dll). Sayang nya, (atau bagus nya?) pengkhianatan itu ketahuan. Si sekretaris dipecat.

Untuk menjaga rahasia Perusahaan diperlukan integritas dari semua karyawan nya.

Rakus

Koruptor sangat rakus. Mereka tidak pernah merasa puas dengan harta yang telah dirampoknya. Mereka tidak peduli dengan korban yang dirampoknya (negara, rakyat).

Nah yang ini perlu disaring. Haus boleh, tapi rakus jangan. Haus akan ilmu dan kemajuan boleh, tapi rakus dengan menghalalkan segala hal, jangan.

Seperti kata Steve Jobs di tahun 2005 di Stanford University:

“Stay hungry, stay foolish”.

Kita diajak untuk tetap haus akan ilmu dan tidak merasa sudah pintar.

Tapi koruptor ‘salah kutip’ pesan itu menjadi:

“Stay starving, stay deceitful “

Yang ini parah banget ya. Lapar nya gak ketulungan untuk mengeruk duit. Dengan cara curang pula! Yang ini perlu dihindari, gak usah ikut ikutan

Perusahaan dan individu karyawan akan maju jika mereka selalu haus akan ilmu dan tidak pernah merasa sok jago.  

Risiko

Seperti hal nya pedagang, koruptor berani menghadapi risiko. Risiko OTT oleh KPK, risiko masuk penjara, risiko rasa malu (meskipun banyak yang tak tahu malu), kehilangan posisi dan masa depan (banyak yang tidak khawatir karena “modal materi” nya sangat banyak).

Dalam profesi, factor risiko menentukan keberhasilan seseorang. Karyawan ataupun pengusaha yang tidak berani mengambil risiko tidak akan berkembang. Syaratnya: risiko yang diperhitungkan (calculated risk)

Kalau ada peluang dengan tanggung jawab yang lebih besar, ambil aja. Jangan khawatir gagal. Tapi sekaligus mempersiapkan diri bagaimana supaya tidak sampai gagal.

Ada seorang kenalan yang bekerja di Perusahaan yang ckup besar. Dia ditawarkan promosi jabatan. Tapi ditolaknya karena merasa belum mampu dan tidak berani mengambil risiko. Istri nya mengajak dia diskusi dengan saya.

Tiga hal yang saya katakan:

  1. Peluang belum tentu akan ada lagi. Dia akan kehilangan banyak waktu sekiranya menunggu kesempatan lain.
  2. Tanggung jawab yang lebih besar mendatangkan penghasilan yang lebih besar. Uang pensiun diperhitungkan dengan gaji terakhir. Ini menentukan masa tua nya nanti.
  3. Kekhawatiran sering kali menjadi penghambat karier. Kenapa meragukan kemampuan sendiri? Ayo, buktikan.

Syukurnya dia akhirnya menerima promosi nya dan kehidupan keluarganya semakin nyaman.

Salam Relative-Contradictive,

Eka Wartana

Founder, Master Trainer, The MindWeb Way of Thinking

Professional Licensed Trainer, MWS International

Author: Relative-Contradictive, Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking, MindWeb

Over 30 years of experience in various managerial positions

Website: www.mindwebway.com

#mindwebway #mindweb #berpikirtanpamikir #ekawartana #relativecontradictive #karyaanakbangsa #interconnection #belajardarikoruptor

Leave A Response »