TOXIC LEADERSHIP, bukan TOXIC LEADER

Eka Wartana 03/09/2026 0

Jangan Salah Fokus!

Oleh: Eka Wartana

Toxic Leader sudah banyak ditulis orang.

Artikel ini bukan terfocus pada WHO (leader) nya, tapi pada WHAT (leadership) nya.

Artikel ini melihat dari sisi lain: Toxic Leadership.

Toxic Leader is about the person.
Toxic Leadership is about the way leadership is practiced.

Benarkah semua masalah leadership berasal dari orangnya? Belum tentu.

Bisa jadi yang toxic bukan leader-nya, tetapi leadership-nya.

Di sinilah kita perlu membedakan:

Toxic Leader = orangnya bermasalah.
Toxic Leadership = cara memimpinnya yang bermasalah.

Toxic Leader: Orangnya Bermasalah

Toxic leader lebih banyak berbicara tentang orangnya.

Ada perilaku atau karakter tertentu dari seorang pemimpin yang secara konsisten memberikan dampak buruk kepada orang-orang di sekitarnya.

Misalnya: Dia mudah marah, senang mempermalukan bawahan, manipulative, egois,  tidak mau menerima kritik. Dia senang menggunakan ketakutan sebagai alat untuk mengendalikan bawahannya.

Dalam kondisi seperti ini, memang masuk akal kalau kita mengatakan:

Dia itu toxic leader.”

Tetapi kalau orangnya sebenarnya baik, namun cara memimpinnya menghasilkan dampak buruk, mungkin yang harus diperbaiki bukan orangnya.

Toxic Leadership: Caranya yang Bermasalah

Toxic leadership lebih fokus kepada bagaimana kepemimpinan dijalankan (cara, sistem, response, dan akibatnya).

Seorang pemimpin sebenarnya bisa saja orang baik, sayang kepada anak buahnya, ingin perusahaan maju, ingin target tercapai, ingin disiplin, ingin kualitas pekerjaan tinggi.

Tetapi…cara mencapai tujuan tersebut justru menghasilkan dampak yang toxic.

Nah, di sinilah persoalannya.

Misalnya seorang boss mengatakan:“Saya ingin team saya disiplin.”

Bagus, kan?

Tetapi kalau disiplin diterapkan dengan cara mempermalukan orang yang terlambat di depan teman-temannya, apakah masih sehat?

Atau seorang leader mengatakan: “Saya ingin orang-orang saya punya ownership.”

Bagus juga. Tetapi setiap kesalahan langsung dimarahi dan dihukum.

Akibatnya? Orang menjadi takut mengambil keputusan.

Mereka akhirnya memilih: “Lebih baik jangan berbuat apa-apa daripada salah.”

Leadership-nya mungkin dimaksudkan untuk menghasilkan ownership.

Tetapi cara penerapannya justru menghasilkan fear.

Itulah toxic leadership.

Mengganti leader tidak selalu menyelesaikan masalah.
Bisa jadi yang harus diganti adalah cara leadership-nya.

Sesuatu yang baik bisa menjadi toxic.

Accountability bagus. Tetapi kalau berubah menjadi budaya saling menyalahkan, menjadi toxic.

High performance bagus. Tetapi kalau target tidak realistis dan kesalahan selalu dihukum, menjadi toxic.

Feedback bagus. Tetapi kalau diberikan dengan mempermalukan orang, menjadi toxic.

Competition bagus. Tetapi kalau membuat orang saling menjatuhkan, menjadi toxic.

Jadi, bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi juga: bagaimana, kapan, seberapa jauh, dan apa akibatnya.

Good intention tidak selalu menghasilkan good impact.

Seorang leader mungkin berkata: “Saya menekan mereka supaya performance-nya meningkat.”

Tetapi tekanan berlebihan bisa menghasilkan:

Fear → Silence → Hidden Problems → Poor Decisions → Poor Performance

Kemudian leader melihat performance turun dan menambah tekanan lagi.

Terjadilah lingkaran toxic.

Masalahnya ternyata bukan hanya pada satu orang.

Ada interkoneksi antara cara memimpin, budaya organisasi, response karyawan, , keputusan, dan hasil akhirnya.

Jangan hanya melihat siapa yang menyebabkan masalah.
Lihat hubungan antara tindakan, response, dan akibatnya.

Karena terkadang…

Yang perlu diubah bukan LEADER-nya.

Yang perlu diubah adalah LEADERSHIP-nya.

Jadi, Apa yang Harus Kita Perbaiki?

Dari Person ke Practice nya

Dari: WHO ke WHAT is toxic?

Toxic Leader Bisa Diganti. Toxic Leadership Bisa Berulang.

Ini satu lagi perbedaan penting.

Kalau masalahnya adalah seorang leader, mungkin solusinya relatif sederhana:

Ganti leader.

Tetapi bagaimana kalau setelah dia diganti, masalahnya tetap muncul?

Apa yang terjadi?

Mungkin masalahnya bukan orangnya.

Mungkin sistem leadership-nya yang membuat orang bertindak seperti itu.

Kalau begitu, mengganti orang tidak cukup.

Yang harus diubah adalah cara memimpin

Ketika melihat sebuah organisasi bermasalah, jangan buru-buru bertanya:

“Siapa leader yang toxic?”

Coba tambahkan beberapa pertanyaan:

Cara memimpinnya bagaimana?”

Sistemnya bagaimana?”

Keputusan apa yang menghasilkan masalah?”

“Apa response dari karyawan terhadap leadership tersebut?”

“Apakah ada interaksi antara leadership dengan budaya perusahaan?”

“Apakah masalahnya berasal dari orang, cara, sistem, atau interkoneksi semuanya?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat kita tidak berhenti pada blaming.

Kita mulai melakukan analysis.

Dan menurut saya, di situlah leadership development yang sebenarnya dimulai.

Sama-Sama Salah, Tapi Tidak Sama

Bayangkan ada dua perusahaan.

Di perusahaan pertama, boss memang seorang yang temperamental.

Dia suka membentak, suka merendahkan orang, suka menciptakan ketakutan.

Ini jelas contoh toxic leader.

Di perusahaan kedua, boss-nya sebenarnya orang yang ramah.

Tidak pernah membentak, tidak pernah memaki.

Tetapi sistem kepemimpinannya:

Target tidak realistis, informasi hanya boleh datang dari atas, karyawan tidak boleh berbeda pendapat, Kesalahan langsung mendapat hukuman, promosi lebih banyak berdasarkan kedekatan daripada prestasi.

Akibatnya orang takut bicara, menyembunyikan masalah, bermain aman, saling menyalahkan.

Apakah ini toxic? Jelas, iya: toxic leadership.

Tetapi mungkin bukan karena boss-nya orang toxic.

Yang toxic adalah leadership system dan leadership practices-nya.

“Don’t blame the leader too quickly. Look at the leadership.”

“Not every toxic workplace has a toxic leader. Sometimes it has toxic leadership.”

Salam Relative-Contradictive,

Eka Wartana
Founder, Master Trainer, The MindWeb Way of Thinking

Professional Licensed Trainer, MWS International

Author: Relative-Contradictive, Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking, MindWeb

Over 30 years of experience in various managerial positions

Website: www.mindwebway.com

#mindwebway #mindweb #berpikirtanpamikir #ekawartana #relativecontradictive #karyaanakbangsa #interconnection #toxicleader #toxicleadership

Leave A Response »