CINTA BUTA – Menyesatkan

Eka Wartana 11/01/2024 0
CINTA BUTA – Menyesatkan

Oleh: Eka Wartana

Barusan saya mendengarkan lagu lama yang dikirim teman via WA. Langsung teringat masa muda dulu, di saat jatuh cinta…. Teringat pacar saat itu. Ketika pacaran, semuanya terasa manis. Kekurangan si dia tidak terlihat sama sekali. Hanya yang baik baik saja yang terlihat. Namanya juga ‘buta’ ….

Pikirannya hanya terpaku di saat itu saja. Tidak terpikir bagaimana nantinya. Karena emosi cinta yang berkuasa, logikanya tiarap. Semua sifat sifat buruk tidak transparan, atau memang sengaja disembunyikan. Serba relative, bukan?

Itulah sebabnya, begitu banyak pernikahan yang gagal. Keburukannya baru terlihat setelah menikah. Keadaan lebih parah ketika istri hamil dan melahirkan anak. Si suami merasa monopoli perhatian dari sang istri dirampas oleh si bayi. Tidak heran kalau banyak terjadi perceraian dan broken home, keluarga yang berantakan pada masa itu.

Belum lagi masa ‘puasa berhubungan’ setelah istri melahirkan. Godaan besar untuk selingkuh semakin menguat. Iman si suami mengalami test berat di masa itu. Ada suami yang kuat imannya, tapi banyak yang tidak tahan menghadapi godaan. Ketika istri menderita, si suami malah mencari kenikmatan lain…..

Ketika pacarana, kebanyakan orang mengobral kalimat:”Aku cinta padamu”. Itu normal saja. Tapi kalimat manis itu semakin menghilang setelah pernikahan. Percaya nggak, saya tidak pernah mengatakan kalimat itu ketika pacaran maupun setelah menikah. Aneh kah…..? Ucapan itu saya gantikan dengan tindakan, sikap terhadap si dia.

Setelah cukup usia baru saya sadari bagaimana pemikiran di saat muda itu. Begitu sempit lho! Hanya situasi di saat itu yang terpikirkan dan terasakan. Tidak cukup mengevaluasi sifat sifat dan kebiasaannya ketika ‘me-recruit’ pacar….he he he. (Emangnya seleksi karyawan….! ?)

Selain kebutaan dalam cinta asmara, masih ada lagi cinta buta terhadap profesi (workaholic) dan belakangan ini ada cinta buta terhadap partai…..

Bagaimana sebaiknya para orang tua memberikan arahan kepada anak anaknya yang sedang pacaran(mencari jodoh) ?. Tantangan yang lumayan berat! Maukah mereka mendengarkan nasihat orang tuanya?

Pertanyaan lainnya: Punya waktu kah si orang tua untuk maksud tersebut? Kalau punya waktu, apakah punya kemauan? Menyerah saja dan menyerahkannya kepada si anak? Percaya saja akan takdir mereka?

Semuanya serba relative, bukan? Akibatnya pun seringkali contradictive

Salam Relative-Contradictive,

Eka Wartana

Author:

Relative-Contradictive dalam Profesi, (pesan buku via WA ke: 081281811999)

Berpikir Tanpa Mikir – Terobosan Cara Berpikir,

To Think Without Thinking – A Thinking Breakthrough,

MindWeb-A New Way of Thinking.

Founder and Master Trainer:

The MindWeb Way of Thinking

Problem-Preventing, The Advanced Competency – The MindWeb Way

#relativecontradictive #problempreventing #tothinkwithoutthinking #berpikirtanpamikir #ekawartana  #karyaanakbangsa #aslikaryaindonesia #mindweb #jatuhcinta #pacaran #akucintakamu #cintabuta

Leave A Response »