Keputusan Blunder

admin 14/03/2014 0

Dalam waktu sebulan ini, saya bertemu dengan dua orang teman yang baru saja ditimpa masalah. Mereka terlilit hutang dan dikejar kejar debt collector. Usia keduanya relatif masih muda (sedikit lebih muda dari sayalah…he…he… maksudnya semangatnya 😉 ). Apa yang terjadi?

Rupanya mereka tergerak untuk pindah kuadran, dari karyawan (Employee) menjadi pemilik bisnis (Business Owner). Kuadran yang dimaksud adalah Cash Flow Quadrant nya, Robert T Kiyosaki. Mereka tidak mau dianggap “pengecut” karena berada di zona nyaman (comfort zone) terus. Maka, merekapun mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan mulai petualangan bisnis nya.

Mereka sangat terkesan dengan program bisnis tanpa modal, dan memakai credit card dari beberapa bank. Maka, mulailah mereka berbisnis dengan memakai fasilitas credit card. Apa lacur…..bisnis tersendat, plus kena tipu kiri kanan. Akhirnya, mereka tidak mampu membayar tagihan. Hidup merekapun tidak nyaman lagi, sudah diuber uber penagih hutang, istripun ribut pula. Beruntung keduanya telah memperoleh pekerjaan lagi.

Kenapa ya, sampai terjadi kasus diatas? Mungkin ada beberapa hal yang menjadi alasannya, seperti:

  • Ingin cepat kaya, mengubah nasib dengan cepat.
  • Terpengaruh oleh para motivators yang sukses.
  • Malu bila dikatakan tidak berani menghadapi tantangan baru.

Mereka tergerak oleh agitasi para motivator yang terkadang berlebihan. Sebagian orang terbukti berhasil, tapi lebih banyak lagi yang gagal. (lupakah mereka bahwa gula yang terlalu manis bisa membuat sakit gigi….. ? 😉 ).

Saya memiliki pendapat yang berbeda dengan banyak orang yang mengatakan:”Harus berani meninggalkan comfort zone!”. Kenapa zona nyaman harus kita tinggalkan? Kenapa kita tidak mencari saja zona nyaman zona nyaman baru, sebagai perluasan dan penambahan dari zona nyaman yang sudah kita miliki?

Selain kasus dua orang teman tadi, masih banyak kisah serupa yang saya dengar dari teman teman. Kasihan mereka, karena telah menjadi korban akibat salah langkahnya. Semuanya itu berpulang pada pengambilan keputusan (Decision Making) yang keliru.

Sekiranya mereka menyadari cara penilaian (Judgment) dan persepsi (Perception) dari Carl Gustav Jung, tentulah mereka akan bisa lebih luas melihat informasi informasi yang ada dan lebih seimbang dalam hal pengambilan keputusan (tidak dikuasai hanya oleh factor Feeling dan melupakan factor Thinking). Lebih lengkap lagi kalau evaluasi criterianya didasari dengan system interkoneksi ala MindWeb, dimana kita bisa memperhitungkan konsekuensi dari setiap keputusan kita.

Alhamdulillah, masa pensiun saya terasa nyaman, berkat keputusan keputusan bermanfaat yang telah saya ambil sejak lama. Dan semua pengalaman dan ilmu yang saya peroleh tentang pengambilan keputusan, akan saya sharing dengan para peserta training Decision Making, yang akan diadakan pada tgl 22 Maret di Apartment Boulevard, Jl Fachrudin Raya No. 5, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Kebetulan saya diminta mengisi sesi training singkat ini (hanya 4 jam) oleh MWS Indonesia/ HR Excellency. Biayanya murah kok, cuman Rp 450 ribu/ orang (early birdnya Rp 350 ribu sampai 10 Maret, sudah lewat). Ini murah sekali dibandingkan kerugian besar yang bisa menimpa karena keputusan yang salah. Bagi rekan rekan yang berminat mengirimkan staffnya bisa menghubungi MWS Indonesia/ HR Excellency di telpon 021 386 2521. Siapa tahu masih bisa dikasih harga‘burung rajin’ (early bird, yang bangun pagi pagi…..). Sampai jumpa……

Best regards, Eka Wartana

 

Leave A Response »