YES, but ….. not done

Eka Wartana 16/08/2023 0
YES, but ….. not done

Oleh: Eka Wartana

Bagaimana penilaian para expatriates (asing) terhadap orang kita?

Dalam acara Cross-Culture event yang pernah saya ikuti, para expats memberikan komentar tentang orang kita.

Ada dua hal yang masih saya ingat kuat tentang pandangan expats terhadap karyawan Indonesia:

  • Mengatakan “iya” ketika diberikan instruksi, tapi sering tidak dijalankan.
  • Kurang percaya diri.

Memang benar, banyak orang kita yang terlalu cepat mengatakan ‘iya’ ketika menerima instruksi. Kenapa tidak dijalankannya?

Menurut pengamatan saya, ada beberapa hal yang bisa menjadi menyebabnya:

  • Instruksinya kurang jelas, tapi tidak berani bertanya. Tidak jelasnya instruksi bisa jadi karena factor Bahasa (Inggris) yang kurang dimengerti.
  • Instruksinya terlalu cepat sehingga kurang dimengerti.
  • Mau bertanya, khawatir dianggap bodoh. Jadi, dijawab saja dengan “Yes”. Orang yang lumayan berani akan menjawab dengan:”Yes, but……”, memberikan alasan akan perbedaan pendapat.
  • Kurang percaya diri dengan pendapat sendiri. Padahal, mereka tidaklah sebodoh yang dikiranya, dan menilai expats itu terlalu tinggi sehingga melihat dirinya terlalu rendah. Banyak yang terlalu sensitive.
  • Tidak assertive. Tidak berani mengemukakan pendapatnya sendiri, padahal yang dikatakan expats itu kurang pas menurutnya. Ada kekhawatiran dianggap tidak sopan, ‘melawan’, takut salah.

Untuk mengatasi kelemahan kelemahan itu, para pimpinan sangat besar perannya. Para atasan perlu memberikan kesempatan bawahannya untuk mengajukan pendapat yang berbeda. Jangan memakai ultimatum:”Pokoknya…….bla, bla, bla…”. Gak usah gengsi lah kalau pendapat bawahannya lebih baik.

Malah, mereka perlu diapresiasi kalau mereka benar. Gaya subjektif diganti dengan objektif. (Pernah para karyawan heran, ketika saya mempromosi seorang mechanic menjadi supervisor, padahal dia tidak suka sama saya. Saya promosi dia karena performanya bagus. Suka tidak suka itu factor subjektif. Artikelnya: https://mindwebway.com/2021/03/30/dibenci-kok-malah-mempromosi/ )

Cara diatas selain akan membuat mereka berani mengemukakan pendapat, juga meningkatkan rasa percaya dirinya. Ketika menjadi kepala cabang dulu, karyawan menganggap saya terlalu “to the point”, tanpa diplomasi. Tapi lama kelamaan mereka sudah terbiasa dan tidak terlalu sensitive lagi. Senangnya, banyak diantara mereka yang kemudian ‘menjelma’ menjadi leaders yang assertive, disiplindan percaya diri.

Salam Relative-Contradictive, Eka Wartana

Author:

Relative-Contradictive dalam Profesi, (pesan buku via WA ke: 081281811999)

Berpikir Tanpa Mikir – Terobosan Cara Berpikir,

To Think Without Thinking – A Thinking Breakthrough,

MindWeb-A New Way of Thinking.

Founder and Master Trainer:

The MindWeb Way of Thinking

Problem-Preventing, The Advanced Competency – The MindWeb Way

#relativecontradictive #problempreventing #tothinkwithoutthinking #berpikirtanpamikir #karyaanakbangsa #aslikaryaindonesia #mindweb #whatif #problempreventing #argumentasi #crossculture #expatriates #selfconfidence

Leave A Response »