Motivasi Tanpa Carrot

Eka Wartana 27/09/2022 0
Motivasi Tanpa Carrot

By: Eka Wartana

Di zaman dulu, parap guru sekolah biasanya memakai penggaris untuk menghukum murid yang berbuat salah. ‘Stick’ yang paling banyak digunakan. Seingat saya, dulu ‘carrot’ tidak pernah dipakai oleh para guru. ‘Carrot’ (wortel) suka dihadiahkan untuk kelinci……. 😊(kelinci tanpa prestasi pun dapat hadiah ‘carrot’, kan?)

Karena itu kita pakai ‘steak’ aja, ya sebagai pengganti ‘carrot’. ‘Steak’ hanyalah metafora untuk pemicu motivasi. Para vegetarian dan sebagian orang tidak makan daging.

Kenapa saya pakai ‘steak’ bukan ‘carrot’? Karena bunyi ‘stick’ dan ‘steak’ agak mirip. Memang karateristiknya juga mirip: sifat keduanya sementara saja, untuk jangka pendek. Dampak motivasinya akan menurun sejalan dengan waktu.

Motivasi pada dasarnya bersumber pada dua hal:

  1. Mencari kesenangan (seek pleasure)
  2. Menghindari sengsara (avoid pain)

Orang akan termotivasi ketika ada harapan untuk memperoleh hal hal yang menyenangkan. Misalnya, seorang karyawan akan bekerja keras, serius, supaya memperoleh kenaikan, apakah gaji, atau jabatan. Dia mencari kesenangan, mencari ‘steak

Ada lagi orang yang baru termotivasi ketika ada ancaman. Contohnya, seorang karyawan yang performa nya kurang bagus. Dia memperoleh SP, Surat Peringatan. Dia akan berjuang memperbaiki kinerjanya supaya tidak sampai kehilangan pekerjaannya. Dia menghindari sengsara, menghindari ‘stick’.

Mana yang lebih efektif dalam memotivasi orang, apakah memakai stick atau steak?

Persamaan ‘stick’ dan ‘steak’:

  • Keduanya bersifat sementara. Kenaikan gaji membuat dia senang. Tapi lama kelamaan dia kembali merasa biasa biasa saja. Peringatan juga serupa. Pada mulanya dia akan berubah, tapi setelah itu terulang lagi ‘kebiasaan’ lamanya.
  • Keduanya merupakan pengaruh faktor luar dari dirinya. Bisa atasannya, lingkungannya, keluarganya, masyarakat.
  • Keduanya sama sama termasuk extrinsic motivation.

Perbedaannya:

  • Steak’ bersifat positive. Ada keinginan untuk memperoleh hadiah (rewards). Walaupun sifatnya sementara, tetap baik dampaknya. Sebisa mungkin mereka perlu menghindari performa Yoyo, sebentar naik, lalu turun lagi.
  • Stick’ bersifat ‘terpaksa’, bukan dari kehendaknya sendiri. Seringkali berbuntut ‘tomat’, tobat dulu, nantinya kumat lagi.

Stick, Steak dan Maslow Hierarchy

Maslow Hierarchy of Needs berhubungandengan motivasi. Karena itu juga berhubungan dengan rewards (steak) dan punishment (stick).

Sekilas keduanya terlihat sama ya dalam hubungannya dengan orangnya. Tapi kalau kita teliti lebih lanjut, ada perbedaan kelompok orang yang mana yang lebih efektif dengan ‘stick’, mana yang ‘steak’.

Pemakaian punishment lebih efektif untuk kelompok orang yang memiliki physiological needs dan safety needs. (level 5 dan 4 dari Maslow). Sedangkan yang rewards lebih mengena untuk orang yang memiliki belongings & love needs dan esteem needs (level 3 dan 2). Needs-nya berada pada tingkat yang lebih tinggi.

Jadi, supaya motivasi berdampak kita perlu mengenal ‘needs’ mereka ketika memilih ‘stick’ atau ‘steak’ untuk dipakai memotivasi.

Intrinsic dan Extrinsic Motivation

Extrinsic Motivation.

Baik motivasi karena menghindari hukuman (‘stick)’ maupun mencari kesenangan atau hadiah (‘steak’) pengaruhnya berasal dari luar dirinya.

Contohnya: Dia berusaha untuk mencari terobosan proses kerja karena dia diminta oleh atasannya. Dia melakukannya dengan terpaksa supaya tidak mendapat teguran. Dia juga ingin supaya hasilnya dihargai oleh atasannya. Syukur syukur ada hadiahnya.

Karena itu sifatnya lebih sering sementara, dalam jangka pendek. Ketika semangatnya turun, dia memerlukan motivasi lagi. Demikian seterusnya. Tentunya hal ini menguntungkan para motivators karena memperoleh pekerjaan terus menerus.

Intrinsic Motivation

Motivasinya berasal dari dalam dirinya sendiri (self-motivated). Dia menikmati apa yang dilakukannya.

Contohnya: Dia bersemangat tinggi untuk mencari terobosan proses kerja karena dia suka dengan cara cara baru, dan menikmati keberhasilannya.  

Rewards (hadiah) atau punishment (hukuman) tentunya berpengaruh juga terhadap dirinya namun itu bukanlah factor utama baginya. Tanpa keduanya pun, dia akan tetap berusaha melakukan yang ’the best’.

Motivasi nya bisa bertahan dalam jangka panjang.

Hubungannya dengan Maslow Hierarchy? Intrinsic motivation ini berkaitan dengan level tertinggi dari Maslow Hierarchy, yaitu: Self-Actualization. (aktualisasi diri). Dia ingin membuktikan kemampuannya, dengan ataupun tanpa motivasi dari orang lain.

Yang mana yang paling pas untuk memotivasi orang lain?

Tergantung dari karakter dan needs orang itu dan yang tidak kalah pentingnya, approach yang mana yang Rekan Rekan pilih tentunya…..

Salam Berpikir Tanpa Mikir,

Eka Wartana

Founder, Master Trainer: The MindWeb Way of Thinking.

Author: To Think Without Thinking (in English), Berpikir Tanpa Mikir, MindWeb (Indonesia & English Edition), Relative-Contradictive dalam Profesi, Relative-Contradictive dalam Kehidupan.

Professional Licensed Trainer (MWS International)

Over 33 years of experience in various managerial positions in well-known companies.

#tothinkwithoutthinking #berpikirtanpamikir #mindwebway #mindweb #karyaanakbangsa #karyaorisinal #ekawartana #relativecontradictive #motivasi #intrinsic #extrinsic #maslowhierarchy #rewardsandpunishment #stickandcarrot #stickandsteak #newwayofthinking

Leave A Response »