FITNAH

Eka Wartana 19/04/2022 2
FITNAH

Oleh: Eka Wartana

Adanya persaingan dalam profesi itu wajar saja.

Yang tidak wajar, kalau persaingan itu dibumbui dengan fitnah.

Menariknya, hobi fitnah kebanyakan berlatar belakang iri hati dan sikap munafik. Iri hati karena tidak suka dengan keberhasilan orang lain dan tidak mampu bersaing dengan jujur. Munafik karena dia bisa bersikap manis didepan orangnya, tapi menusuk di belakangnya. Orang orang seperti itu cenderung memakai cara mudah untuk menyerang saingannya: fitnah.

Kalau kita perhatikan, nampaknya tukang fitnah itu adalah orang yang:

  • Pengecut. Beraninya main belakang berbumbu manipulasi.
  • Tidak bertanggung jawab. Berani berbuat curang tapi tidak mau ketahuan.
  • Tukang gossip. Gemar menyebar kebohongan yang merugikan orang lain, terutama saingannya. Hobi menambah ‘bumbu’ yang memperkeruh suasana

Sekiranya kita difitnah orang, bagaimana sebaiknya sikap kita?

Ada baiknya kita pertimbangkan sikap ini:

  1. Tidak usah membalas fitnah dengan fitnah. “Kelas” kita berbeda dengan pem-fitnah.
  2. Jangan terpancing emosi, karena kita akan tergoda untuk membalas dendam. Tetap jaga keseimbangan emosi dan logika.
  3. Tetap bersikap baik terhadap pemfitnah. Ini yang lumayan berat buat kebanyakan orang.
  4. Klarifikasi dengan fakta jika diperlukan.

Ketika masih aktif bekerja dulu, saya cukup ‘kenyang’ dengan fitnahan. Baik oleh  kolega maupun bawahan. Fitnah itu sempat mengancam posisi saya di perusahaan.

Tapi untungnya, fitnah fitnah itu terbongkar sendiri tanpa memerlukan klarifikasi dari saya. Malah pemfitnah sendiri yang akhirnya mengalami nasib buruk, tergusur dari posisinya. Pernah ada yang berhasil menggusur saya, tapi malah membawa ke masa depan yang lebih cerah…..

Yang kurang saya mengerti, kok saya tidak merasa benci ataupun dendam kepada mereka. Mungkin karena sikap mereka yang terang terangan, tidak munafik. Sikap saya terhadap mereka tetap normal saja. Kesalahan mereka mudah terlupakan.

Tapi adakah yang sulit dilupakan? Ada lho! Ada satu fitnah yang belum bisa saya maafkan. Sebabnya, karena dilakukannya berkali-kali dan secara diam diam mau merusak reputasi saya. Parahnya, klarifikasi yang saya minta tidak ditanggapi. Sikap munafik membuat ‘maaf’ lari menjauh…..

Bagaimanapun dalam kompetisi kita perlu menjauhi fitnah.

“Berkompetisilah dengan prestasi bukan manipulasi!”

Salam Problem Preventing,

Eka Wartana

Founder, Master Trainer: The MindWeb Way of Thinking.

Author: To Think Without Thinking (in English), Berpikir Tanpa Mikir, MindWeb (Indonesia & English Edition).

Professional Licensed Trainer (MWS International)

Over 33 years of experience in various managerial positions.

#tothinkwithoutthinking #berpikirtanpamikir #mindwebway #mindweb #karyaanakbangsa #ekawartana #problempreventing #relativecontradictive #fair #kompetisi #fitnah

2 Comments »

  1. Nana 21/04/2022 at 8:04 am - Reply

    Pak Eka,
    Terima kasih atas pembahasannya tentang fitnah yg memang sangat umum terjadi, baik di dunia professional maupun personal. Sayapuj sangat sering mengalaminya, namun seperti saran bapak, selama ini saya tidak pernah membalasnya.

    Mohon ijin membahikan 2 point dr sudut pandang saya ya pak :
    – orang yang melakukan fitnah adalah orabg yg tidak memiliki INTEGRITAS.
    – sikap tambahan yg boleh dipertimbangkan adalah mendoakan si pemfitnah agar Tuhan menyadarkan dia dan merubahnya menjadi orang baik.

    Demikian komentar saya pak Eka. Terima kasih sekali lagi atas tulisan2 bapak yg selalu positif dan inspiratif.
    GBU

  2. Eka Wartana 21/04/2022 at 11:49 am - Reply

    Wah, terima kasih sekali untuk feedback-nya Bu Nana yang luar biasa. Apalagi dikasih bonus “integritas” dan “doa” untuk pem-fitnah kita.

    Keduanya benar sekali. Orang yang punya integritas tidak akan melakukan hal seperti fitnah ini.

    Mendoakan mereka merupakan satu sikap yang sangat mulia.

    Thank you so much, Bu Nana untuk ulasan dan saran sarannya.

    Have a great day!
    God bless you too, Bu Nana

Leave A Response »