Learning Revolution: From Training to Exploring

Eka Wartana 07/12/2021 0
Learning Revolution: From Training to Exploring

Oleh: Eka Wartana

Ini bukan ramalan, bukan khayalan. Tapi kebutuhan di masa depan.

Pemicu dari pemikiran saya ini:  

  • Apakah cara sekarang ini sudah cukup baik untuk memenuhi kebutuhan skills dan competency di masa mendatang?
  • Apa alternatif yang lebih baik supaya organisasi dan individu lebih memiliki competitive-edge (keunggulan persaingan) dan mencapai hasil yang jauh lebih baik?
  • Bagaimana cara lebih baik dalam menghadapi kondisi yang serba tidak pasti dan semakin kompleks? (VUCA:Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) 

Kondisi sekarang

  • Sejak dulu sampai sekarang cara belajar melalui training program masih dengan cara yang sama.
  • Yang berubah sarananya. Selain offline, ada online sehingga muncul istilah hybrid, hyflex, flipped, selain blended learning
  • Trainers membawakan materinya baik online maupun offline. Selain teori, ada juga diskusi kelompok.

.Kebutuhan di Masa Depan

  • Yang sudah ada sekarang ini adalah perubahan sarana training. Proses training masih sama. Perubahan proses ini yang diperlukan di masa depan.
  • Materi lebih ringkas dan praktis, mudah dipelajari sendiri.
  • Aktifitas training: diskusi, brainstorming, roleplaying
  • Tujuan/manfaatnya: meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja, mencetuskan ide dan inovasi baru, mengembangkan skills kompetensi dan potensi peserta, pemecahan dan antisipasi masalah,
  • Peran trainer berubah menjadi facilitator, mengarahkan peserta dengan topik topik yang langsung bisa diaplikasikan dalam pekerjaan.

From Training to Exploring

  • Training yang sekarang sudah ada yang melibatkan diskusi kelompok.
  • Waktu untuk diskusi kelompok sangat singkat. Bagusnya: membantu melatih mental peserta untuk menghadapi situasi ‘kepepet’. Kekurangannya: kurangnya pendalaman kasusnya.
  • Untuk memperkaya penguasaan akan kasus yang ada, diperlukan waktu yang cukup panjang untuk berdiskusi, adu argumentasi, mencari opsi opsi yang lebih baik.
  • Peserta memerlukan proses eksplorasi materi learning-nya, tidak terbatas pada pengertiannya saja (Understanding).
  • Karenanya, kita membutuhkan revolusi dari cara peserta belajar.

New Learning Process

  • Cara training yang ada sekarang ini diubah sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan individu.
  • Peserta mempelajari dulu materi learning yang diperoleh dari internet maupun training provider. (materi yang ringkas, praktis, tidak terlalu detail, bermanfaat)
  • Facilitator menyusun topik topik diskusi dan brainstorming sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan peserta.
  • Facilitator memimpin dan mengarahkan proses learning.

Dalam learning process-nya level kognitif peserta akan mengalir sesuai dengan Bloom’s Taxonomy: (ref: https://www.cnm.edu/depts/academic-affairs/key-processes/blooms-taxonomy-rev-2)

Dari :  Knowledge (rote memorization, recognition, or recall of facts), Comprehension (understanding what the facts mean) yang umumnya diperoleh dari proses training yang sekarang.

Berkembang ke:  Application (correct use of the facts, rules, or ideas), Analysis (breaking down information into component parts), Synthesis (combination of facts, ideas, or information to make a new whole), Evaluation (judging or forming an opinion about the information or situation)

Manfaat dari New Learning Process.

Cara diskusi dan brainstorming memberikan banyak manfaat baik bagi karyawan maupun perusahaan:

  • Perusahaan bisa memperoleh opsi solusi terbaik untuk masalah yang dihadapi.(Problem-Solving)
  • Perusahaan bisa memilih opsi keputusan terbaik (Decision-Making)
  • Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pekerjaan.
  • Peserta memiliki kesempatan untuk meningkatkan competency-nya.
  • Kesempatan peserta untuk mengembangkan kariernya.
  • Peserta mampu menguasai materi dengan jauh lebih baik daripada hanya mendengarkan training dan membaca materi saja.
  • Membuat peserta semakin cerdas, meningkatkan skills dan competency-nya: communication, impact & influence, convincing, seni berbicara dan kepercayaan diri, sikap kritis, berpikir konsekuensial, dan banyak lagi.

  Tantangannya

Semua hal baru biasanya menghadapi tantangan dan tentangan.

Beberapa tantangan dari new learning process ini:

  • Anti perubahan dari banyak orang (tidak mau pusing, merasa sudah nyaman, takut gagal)
  • Keinginan banyak orang untuk training yang santai, tidak perlu repot repot.
  • Peserta yang pendiam, introvert. Mereka membutuhkan pengarahan dan motivasi dari atasannya untuk ‘spek up’.
  • Kesiapan facilitator menjalankan perannya yang berubah. Trainer juga perlu meng-upgrade diri dari Trainer menjadi Facilitator yang dibutuhkan.

Ringkasnya:

  1. Trainer berperan sebagai facilitator
  2. Aktifitas learning: discussion, brainstorming, roleplaying
  3. Materi yang ringkas-praktis dipelajari sebelumnya.

Zaman sudah berubah. Teknologi sudah berkembang pesat. Akankah kita terus melakukan scra belajar yang sama terus?

Salam Revolusi Cara Belajar,

Eka Wartana

Founder, Master Trainer, The MindWeb Way of Thinking

Professional Licensed Trainer, MWS International

Author: Relative-Contradictive, Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking, MindWeb

Over 30 years experience in various managerial positions

Website: www.mindwebway.com

#mindwebway #mindweb #berpikirtanpamikir #ekawartana #relativecontradictive #learningevolution #trainingprovider #newlearningprocess #trainer #fasilitator #brainstorming #diskusi #sharing  

Leave A Response »