Menantang Diri Sendiri

admin 04/03/2021 0
Menantang Diri Sendiri

Sumber: Buku Relative-Contradictive dalam Profesi

Apakah perlu membandingkan prestasi diri sendiri dengan prestasi orang lain? Apakah prestasi orang lain bisa memicu motivasi sendiri untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi?

Kebanyakan orang akan termotivasi kalau ada saingan. Motivator dia adalah competitor-nya. Jelas terlihat ada factor ketergantungan terhadap competitor, bukan?

Jadi, perlukah kita melihat performance dari pesaing kita? Jelas, perlu! Tapi bukan karena ketergantungan tapi untuk melihat the best practice di pasar. Karena itulah ada proses benchmarking, mengukur performance kita dengan performance terbaik dunia atau regional, atau nasional.

Dengan begitu kita bisa tahu di mana level prestasi kita.

Dari sisi lain, kita juga melihat kemampuan sendiri. Seberapa tinggi prestasi yang bisa dicapai. Untuk itulah diperlukan kegigihan untuk menantang diri sendiri untuk mencapai prestasi tertinggi yang mungkin dicapai.

Ada dua tantangan yang muncul dari diri sendiri: lack of confidence (kurang percaya diri) atau over-confidence (terlalu pede). Keduanya berbahaya dalam usaha mencapai prestasi tinggi. Tidak percaya diri akan menutup potensi diri yang sebetulnya bisa berkembang. Over-confidence membuat kita terlena dan menutup pintu pengembangan diri karena meremehkan tantangan yang ada.

Dalam menghadapi tantangan hidup, setiap orang perlu meningkatkan kemampuan dirinya. Mereka bisa belajar dari pengalaman sendiri dan dari pengalaman orang lain. Mereka perlu mencari tantangan tantangan baru dan menantang kemampuan dirinya.

Akan selalu ada ruang untuk meningkatkan kemampuan diri. Untuk itu diperlukan kemauan keras, passion (gairah kuat) untuk mencapai tujuannya, mencari terobosan terobosan baru untuk mencapai yang lebih baik, lebih efektif dan lebih efisien. 

Tantang diri sendiri untuk mencapai yang lebih baik dan yang lebih baik. Tetapkan target yang menantang (stretched-target). Seorang salesman yang ditargetkan untuk mencapai Rp 80 milyar, bisa jadi dia hanya akan mencapai Rp 75 milyar. Tapi sekiranya dia ditargetkan Rp 100 milyar mungkin dia berhasil mencapai Rp 90 milyar. Walau dibawah target, tapi pencapaiannya tetap diatas dari target yang lebih rendah.

Sesungguhnya dia masih mampu untuk menjual lebih besar dan lebih besar dengan usaha usaha baru, strategi baru, wilayah baru, customer baru, produk baru dan tentunya juga semangat baru.

Pembelajarannya:

Penghambat besar kemajuan adalah rasa cepat berpuas diri. Sudah puas dengan posisi sekarang, dengan gaji sekarang, dengan pekerjaan sekarang. Tidak ada lagi tantangan buat dia.

Kalau ada saingan, bersainglah dengan fair. Kalau sudah tidak ada saingan lagi, bersainglah dengan diri sendiri.

Jangan pernah berhenti untuk mencari terobosan baru, ide ide baru untuk meningkatkan kemampuan secara non-stop. Kembangkan kebiasaan untuk continuous improvement!

Setiap manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Mindset yang kelirulah yang membatasi kemajuannya, membatasi tantangannya. Sebagian orang berhenti setelah kebutuhan akan papan, pangan dan keamanan kerjanya terpenuhi, lingkungan sosialnya menyenangkan, dihargai hasil kerjanya. Masih ada hal yang perlu dikembangkan: aktualisasi diri. Melakukan hal hal yang bernilai untuk kehidupan yang terbebas dari kerakusan akan harta dan tahta.

Dengan aktualisasi diri, tidak ada lagi saingan kecuali diri sendiri. Yang diperlukan untuk ini: self-discipline. Pertanyaannya:” How high can you fly?”

Jangan batasi tantangan Anda, tapi tantanglah batasan kemampuan Anda –

“Do not limit your challenges, challenge your limits” (Jerry Dunn)

Salam RelCon,

Eka Wartana

Founder, Master Trainer, The MindWeb Way of Thinking

Author: Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking, MindWeb

www.mindwebway.com

#menantangdiri #relativecontradictive #aktualisasidiri #disiplindiri #prestasi #ekawartana

Leave A Response »