Adu Balap: Harga Rumah dan Tabungan!

admin 24/03/2017 0
Adu Balap: Harga Rumah dan Tabungan!

Adu Balap: Harga Rumah dan Tabungan!

Oleh: Eka Wartana

Siapa ya pemenangnya bila ada adu balap antara Rumah dan Tabungan? Inilah dilemma yang dihadapi oleh para karyawan. Kenaikan gaji seperti jalannya kura kura, kenaikan harga rumah secepat lari pelanduk. Adakah solusinya?

Karyawan bisa memperoleh penghasilan dari: gaji + tunjangan/komisi penjualan dan dari penghasilan lain. Penghasilan lainnya, bisa legal (dari usaha sendiri/ keluarga, hibah) dan illegal (dari hasil korupsi).

Masih adakah gaji yang bisa disisihkan untuk ditabung? Ibarat perang, tabunganpun punya musuh-musuh, seperti pemborosan (termasuk untuk makan enak, rokok, membeli barang yang “nice to have” bukan hanya yang “need to have”), gengsi, “simpanan” (termasuk tunjangan “kenakalan”) yang bisa menggerus simpanan.

Lalu, apa yang bisa dilakukan karyawan, supaya bisa memiliki rumah? Menunggu warisan? (Iya kalau ada, tapi kalau warisannya berupa utang, bagaimana….?)

Jadi ingat pengalaman di tahun 1979/1980an. Ketika itu PT Papan Sejahtera menawarkan kredit rumah selama 15 tahun. Seingat saya perusahaan itulah yang pertama mempelopori KPR. Hitung hitung, total harga rumah plus bunga bunganya kok bisa tiga kali lipat dari harga rumahnya! Saya dan ratusan karyawan perusahaan mundur teratur. Maklumlah, kebanyakan orang memiliki jangkauan pikiran yang masih jarak dekat. Hanya sekitar tiga orang yang ikut. Tahu gak lokasi rumahnya? Pondok Indah! Waktu itu daerah Pondok Indah masih berupa kampung yang terasa sangat jauh dari Jakarta. Sekarang harga rumah disana sudah puluhan kali lipat!

Kuncinya: Pengalaman. Belum punya pengalaman dan tidak berani menjalani pengalaman baru…..

Saran untuk para karyawan: ambil KPR. Alasannya:

  • Kenaikan gaji tidak akan pernah bisa mengejar kenaikan harga rumah.
  • Nilai tabungan akan merosot termakan inflasi.
  • Kenaikan harga rumah seringkali lebih tinggi daripada inflasi.(tergantung lokasi tentunya).
  • Dengan uang di tangan, orang cenderung untuk membelanjakannya.
  • Kenaikan harga rumah jauh lebih tinggi dari bunga bank yang kita bayarkan.
  • Rumah bisa langsung ditempati. (menghilangkan biaya untuk kontrak rumah).

Ada karyawan yang mengutamakan membeli mobil daripada rumah. Bedanya: harga mobil turun terus, harga rumah naik terus. Mobil membutuhkan biaya perawatan, bensin, spare parts, sementara rumah menghapus biaya kontrak (atau memberikan passive income bila di kontrakkan).

Jadi teringat ketika mengambil KPR pada tahun 1981 di Padang untuk rumah tipe 54. Waktu itu pinjam uang kiri kanan untuk bayar DP. Angsurannya berapa? Surprise! Hanya Rp 56.000 per bulan, tetap. (gak salah kok, gak sampai Rp 100 ribu). Tak terasa 15 tahunpun berlalu dan saya memiliki rumah sendiri. Terimakasih BTN!

Rumah itu tidak pernah kami tempati, karena perusahaan memberikan fasilitas rumah termasuk isinya. Fasilitas ini bisa membutakan karyawan karena seringkali terlupakan untuk mempunyai rumah sendiri. Keenakan mendapat fasilitas terus. Akibatnya, banyak karyawan yang belum memiliki rumah setelah tiba masa pensiunnya.

Setelah lunas KPR rumah di Padang, saya ambil lagi KPR untuk rumah di Jakarta. Alhamdulillah, sudah lama lunas juga. Itu semua hasil dari pengetatan ikat pinggang selama belasan tahun.

Jadi, KPR telah memberikan banyak manfaat buat para karyawan. Ini bukan janji lagi tapi telah terbukti. Kenapa tidak kita manfaatkan?

Salam Berpikir Tanpa Mikir,

Eka Wartana (bukan karyawan/ pemilik bank pemberi KPR…..).

Founder The MindWeb Way of Thinking, Penulis Buku Berpikir Tanpa MikirA Thinking Breakthrough, Buku MindWeb –  A New Way of Thinking, Professional Licensed Trainer (MWS), Praktisi berpengalaman 33 thn dibidang Management

mindwebway.com    www.facebook.com/eka.wartana.5

Leave A Response »