Toxic Teenager

admin 01/02/2014 0

Toxic Teenager (Bp. AD Martin Radiotalk 16/06/10)

 

Satu saat ada orang yang berbisik dengan temannya tidak jauh dari Pak Martin:”Eh, itu ‘kan Pak Toxic….” ( oooo…..Pak Martin dapat title baru…..selain “Best EQ Trainer in Indonesia”, and…..,and….. and last but not least: Mr. Toxic….;-)). Rupanya buku Toxic Employee begitu populernya sehingga Pak Toxic lebih popular daripada Pak Martin……

Kita sudah tahu tentang Toxic Employee. Rencananya Pak Martin akan terbitkan buku Toxic Leader ( ups….terlanjur bocor nih…) tapi ternyata Leader diselip oleh Teenager….(kapan muncul bukunya, Pak Martin…?)

Ciri ciri Toxic Teenager.

  1. Tidak peduli masa depannya. Hanya hari ini yang dipikirkannya. Dia jadi malas, tidak disiplin, suka bolos, dll. Toh, masih ada orang tua yang peduli untuk kenyamanannya dimasa depan.
  2. Tidak peduli dengan konsekuensi dari tindakannya. (No Consequential Thinking). Dia berpikir jangka pendek dan hanya peduli dengan kesenangannya yang sekarang. Bagaimana jadinya nanti sebagai akibat dari tindakannya, dia tidak mau ambil pusing. Uang jajan dibuat berfoya foya, ogah menabung.
  3. 3.    Mencari jalan pintas. Mereka menginginkan cara cepat untuk menyelesaikan masalahnya, misalnya menyontek saat ulangan tanpa mau belajar, mudah terjerumus ke narkoba, melacurkan diri. Yang parah, untuk menghilangkan masalahnya, mereka mengambil jalan pintas: bunuh diri (nyeselnya baru muncul setelah gak dapat tiket masuk di surga, sekalipun berusaha mencarinya via calo……;-)) Emangnya di Istora Senayan….?!
  4. Senang melawan hukum. Tindakannya sering melawan hukum dan menjerumuskan orang lain, baik itu teman, guru bahkan orang tuanya sendiri. Bahkan polisipun dilawannya. Tindakannya yang selalu melawan, menjadi ciri orang yang mempunyai kelainan: Oppositional Deficiency Disorder (ODD). Akibat nya dia akan berperilaku CD (ini bukan compact disc…bukan pula cel…dal…tapi Conduct Disorder)
  5. Everything is about ME, ME, ME….”. Dia tidak peduli dengan sudut pandang orang lain dan dia meracuni teman temannya dengan perilakunya.
  6. Frustratif. (‘Mutungan’….bahasa apa ini ya Pak Martin….). Dia mudah sekali berputus asa. Selalu merasa dunianya sudah runtuh! DIa mudah berontak, menghukum diri sendiri, kabur dari rumah…bahkan bunuh diri!
  7. Pola pikir: Alim = Kurang Gaul. Orang dianggap kurang gaul kalau tidak merokok, tidak mencandu narkoba. Penampilan yang beda dipakai supaya dibilang anak gaul…Suka mempengaruhi orang lain untuk tampak gaul…

 

Apakah perilaku toxic itu sebagai bawaan lahir atau pengaruh lingkungan? Menurut Pak Martin ada juga factor bawaan tapi sedikit. Sebagian besar adalah karena factor lingkungan. Toxic teenager bisa jadi memiliki IQ yang tinggi dan multi talented. Hanya saja behavior/ mentalnya yang bermasalah.

Penting buat para orang tua untuk lebih meluangkan waktu untuk anak anaknya. Bagaimanapun, orang tua lah yang bertanggung jawab untuk anaknya yang ‘toxic’.

 

Anti-Toxic nya: 5 R

  1. Rethink (Penyadaran ulang)
  2. Replace (keyakinan diganti – ini bukan tentang agama lho)
  3. Reformat (dikosongkan – kayak CD aja diformat ulang….:-))
  4. React (bertindak kembali)
  5. Reflect (melihat ulang)

 

Supaya sama sama 7 itemnya, boleh gak ditambahin 2 lagi ya…? Sesudah Reformat, di Refill (diisi dengan pandangan/ keyakinan baru – emangnya tinta printer…?!), terus di aplikasikan (React). Satu lagi yang terakhir: Reborn (terlahir kembali). Dengan ke 7 ini para orang tua nantinya tidak perlu Report lagi……, maksudnya repot atuh…..;-))

Tips lainnya yang diberikan oleh Pak Martin atas sms/ telpon pendengar:

  • Orang tua yang anaknya ‘toxic’ jangan menyerah (give up)! Harus lebih banyak melibatkan diri dengan urusan anak, beri mereka waktu. Educate mereka apakah lewat penjelasan, buku, seminar.
  • Orang tua yang otoriter, punya pilihan. Kalaupun itu di’turun’kan dari orangtuanya, cobalah “break the pattern” (hancurkan pola pikirnya). Caranya, bisa dengan self talk, bergaul dengan orang yang positif, pinjam ide bagus dari orang lain, baca buku, ikuti seminar yang bermanfaat.
  • The great motivator is inside us! Tapi terkadang kemampuan kita terbatas sehingga masih memerlukan feedback dari orang lain.
  • Supaya remaja tidak tergantung dari orang lain, berikan dia apresiasi, pujian walau untuk hal kecil, supaya kepercayaan dirinya meningkat (kamu bisa!)
  • Untuk memotivasi Toxic Teenager, kita perlu menggali akar permasalahannya, latar belakangnya, siapa temannya. Posisikan diri sebagai temannya, jangan main “blame” (menyalahkan) anak, ajak melihat dari sudut pandang yang lain untuk mengubah pola pikirnya yang akhirnya mengubah perilakunya.
  • Bertindaklah segera untuk membantu para toxic teenager. Better late than never!

 

Sedikit tambahan dari saya. Sekiranya toxic teenager itu dibiarkan saja, nantinya dia akan menjadi dewasa (yang juga toxic…toxic adult!), menjadi orang tua ( toxic parent, yang menjadi model bagi anak anaknya)……maka dia akan melahirkan para toxic teenagers lagi….begitu seterusnya…..Racun pun berkembang biak dengan cepat!

Oh, My God….!!

 

Note: Iklan yang diselipkan dalam Smart Emotion:

Sayang anak….sayang anak…..ikutkan anak pada training: EQ for Youth tgl 1-3 Juli di Rancamaya…..supaya racun (toxic)nya hilang…..:-))

Best regards,

Eka Wartana

 

 

Leave A Response »