Oleh: Eka Wartana
Percaya kah Anda bahwa orang yang oversensitive itu menderita hidup nya? Dan “bonus” nya, orang lain ikut menderita….. Kasihan, bukan?
Sudah tahu begitu, kok masih banyak ya orang yang mau dikendalikan oleh perasaan yang oversensitive……?
Oversensitivity sering terjadi karena:
- emotional focus terlalu dominan,
- perspective terlalu sempit,
- interconnection analysis kurang luas.
Akibatnya: orang hanya melihat: “apa yang dirasakan” tapi tidak melihat: konteks, motivasi orang lain, kemungkinan lain, realitas objektif, dampak jangka panjang.
Contoh nya:
- chat “ok” saja bisa dianggap mengabaikan dirinya,
- tidak dibalas 10 menit sudah merasa dibenci,
- lihat status WA teman:“Jangan-jangan menyindir saya…” Padahal tidak begitu…
Mungkin mereka tidak tahu bagaimana mengatasi super baper mereka? Atau mereka tidak tahu bagaimana mengendalikan emosi nya yang dominan?
Jadi, gimana cara nya mengatasi reaksi emosional yang super baper?
Perasaan yang terlalu peka (oversensitive, baperan) biasanya bukan karena orangnya “lemah”, tetapi karena:
- emosi terlalu dominan, atau terlalu cepat tapi keliru menarik kesimpulan emosional
- filter mental nya kurang kuat,
- terlalu banyak personalizing, terlalu memikirkan penilaian orang,
Orang yang terlalu peka sering:
- mudah tersinggung, cepat kecewa cepat defensif.
- terlalu memikirkan ucapan orang,
- overthinking, merasa disindir, merasa ditolak, merasa dikucilkan
- terlalu banyak membaca gesture dan nada bicara,
Akibatnya:
- stress meningkat, energi mental terkuras
- hubungan sosial terganggu, mudah konflik
- sulit objective,
Yang menarik: orang sensitif sering punya kelebihan juga:
- lebih empatik,
- lebih peka terhadap suasana,
- lebih memperhatikan detail emosional,
- lebih hati-hati terhadap orang lain.
Jadi tujuannya bukan menjadi “dingin”.
Tapi: mengendalikan menjaga sensitivitas supaya tidak mengendalikan diri kita.
Berikut beberapa cara penting untuk mengatasinya:
1. Pisahkan Fakta vs Interpretasi
Orang sering mengacaukan fakta dan asumsi/interpretasi
Contoh:
Ketika Atasan berkata: “Laporan ini perlu diperbaiki.”
Fakta: laporan perlu diperbaiki.
Interpretasi emosional: “Saya dianggap bodoh.” “Dia tidak suka saya.”
Masalah utama orang terlalu peka: interpretasinya lebih besar daripada faktanya.
Saran latihan: setiap kali emosi muncul, tanya: “Ini fakta atau asumsi saya?”
2. Jangan Terlalu Mem-Personal-kan Segalanya
Tidak semua hal tentang kita.
Kadang orang: sedang capek, stress, banyak masalah, sibuk, emosinya buruk.
Tapi orang sensitif sering berpikir: “Pasti karena saya.” Padahal belum tentu.
3. Tunda tanggapan
Orang sensitif bereaksi terlalu cepat. Sedikit tersinggung, langsung emosional.
Padahal: jarak beberapa detik saja bisa menyelamatkan banyak masalah.
Biasakan:
- pause, tarik napas,
- jangan langsung respon, jangan langsung membalas chat,
- jangan langsung defensif.
- Pikirkan dengan logika
Emosi yang ditunda sering berubah drastis setelah logika masuk kembali.
4. Kurangi Overthinking
Overthinking adalah “mesin pembesar emosi”.
Satu komentar kecil bisa berkembang menjadi drama, ketakutan, prasangka, skenario negatif.
Orang sensitif sering: memikirkan satu kejadian berulang ulang.
Akibatnya: emosi terus hidup.
Kadang orang lain sudah lupa, dia masih memikirkannya seminggu.
5. Lihat dari sudut pandang yang berbeda
Belajar melihat situasi seperti “observer”. Bukan sebagai: korban emosi.
Contoh:
Daripada mengatakan: “Dia menyerang saya.”
Coba ganti dengan: “Dia sedang marah.”
“Dia punya sudut pandang berbeda.”
“Ada konflik persepsi.”
Objectivity mengurangi emotional distortion.
6. Bangun Inner Security
Orang yang terlalu peka sering terlalu bergantung pada:
penerimaan, validasi, pujian, pengakuan.
Akibatnya: kritik kecil terasa besar.
Cara meningkatkan inner security: Jangan terlalu bergantung pada penilaian orang lain tapi tetap respek terhadap mereka. Coba lihat sisi positive dari reaksi orang lain, yang negative sekali pun.
Semakin kuat inner security seseorang: semakin stabil emosinya.
7. Jangan ‘Menelan’ Semua Ucapan Orang
Tidak semua pendapat orang lain itu perlu dipercaya. Pedapat orang ada yang obejktif tapi lebih banyak yang subjektif.
Kadang: orang bisa salah, emosional, bias, iri, atau asal bicara.
Kalau semua ucapan dimasukkan ke hati: mental akan penuh “sampah emosional”.
Point ini meningkatkan inner security seseorang.
8. Berpikir secara consequential
Tanya: “Apa akibatnya kalau saya terus terlalu peka?”
Misalnya: relasi rusak, mudah stress, sulit berkembang, sulit menerima feedback, sulit bekerja sama.
Kesadaran akan akibat yang mungkin timbul akan membantu pengendalian diri.
9. Perkuat Logika Saat Emosi Naik
Orang terlalu peka sering memperbesar level emosi nya. Kadang: masalahnya kecil, emosinya yang membesarkan.
Hal yang perlu dilakukan:
- berpikir lebih rasional,
- melihat secara proporsional,
- mempertanyakan asumsi sendiri.
10. Jangan biarkan ‘mood’ menjadi pengendali hidup
Orang sensitif sering tergantung pada mood-nya ketika:
- membuat keputusan.
- berkomunikasi dengan orang lain.
- menghadapi dan menyelesaikan masalah
Padahal mood sangat tidak stabil.
Kalau hidup dikendalikan mood: hidup menjadi roller coaster emosional.
Kesimpulan:
Sensitif itu bukan masalah.
Yang menjadi masalah adalah: ketika sensitivitas mengalahkan rasionalitas.
Salam Relative-Contradictive,
Eka Wartana
Founder, Master Trainer, The MindWeb Way of Thinking
Professional Licensed Trainer, MWS International
Author: Relative-Contradictive, Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking, MindWeb
Over 30 years of experience in various managerial positions
Website: www.mindwebway.com
#mindwebway #mindweb #berpikirtanpamikir #ekawartana #relativecontradictive #karyaanakbangsa #interconnection #oversensitive #consequentialthinking







