Berpikir Manual atau Matik?

admin 27/10/2017 0
Berpikir Manual atau Matik?

 

Berpikir Manual atau Matik?

Oleh: Eka Wartana

Ketika pertama kali mencoba mobil dengan transmisi automatic (matik), reaksi kebanyakan orang:”Sulit!” Pada kenyataannya, pikiran bahwa itu ‘sulit’ seringkali muncul karena belum terbiasa saja. Buktinya, sekarang orang lebih suka memakai mobil matik karena lebih simple, hemat energi karena tidak usah injak injak kopling, ganti ganti gigi. Orang yang sudah terbiasa mengendarai mobil matik akan kesulitan kalau memakai mobil dengan transmisi manual. (manual sudah menunjukkan sikap anti emansipasi…. Kalau ada manual, harus ada womanual dong….? #justkidding)

Persepsi orang pada umumnya ‘negative’ terhadap hal hal baru. Orang seringkali takut akan perubahan (change), karena belum tahu apa yang akan terjadi, kuatir akan akibat yang belum diketahuinya. Tanpa disadarinya, mereka takut akan bayangannya sendiri, yang menghambat kemajuan dirinya. Sisi positive dari perubahan seringkali tertutupi oleh persepsi yang tidak berdasar. (tapi kalau ada pacar baru, kok orang begitu positive dan bersemangat ya….? #justkidding)

Cara bijak untuk menghadapi perubahan kiranya adalah dengan mencoba melihat dulu secara objective, apa sih manfaatnya buat aku? WIIFM (What is in it for me).

Coba kalau tidak ada perubahan dalam transportasi. Orang akan masih bepergian dengan kuda, atau pedati, bisa patah patah tuh pinggang dibuatnya….. Melihat pesawat terbang mereka masih tidak percaya:“Mana mungkin besi seberat itu bisa terbang?”, “Bagaimana kalau jatuh?” Rasa pesimisnya mendominasi dirinya.

Coba kalau tidak ada computer…. Orang akan masih mengolah data secara manual. Waduuuuh, selain makan waktu yang sangat lama, juga tingkat produktifitas dan akurasinya sangat rendah. Adanya computer sangat memudahkan kehidupan manusia.

Coba tidak ada kemajuan teknologi digital, kita masih akan mengirim surat lewat pos yang sampainya berhari hari (belum lagi kalau hilang di jalan).

Hal serupa terjadi dengan cara berpikir. Cara berpikir baru diberi stempel “sulit” bahkan sebelum mendalaminya. Padahal ‘sulit’ itu hanyalah muncul sebagai akibat dari kebiasaan memperbesar masalah dan memperkecil manfaat. Solusinya sebetulnya sederhana: membiasakan diri.

Ketika metode MindWeb saya perkenalkan melalui buku, ada berbagai reaksi pembaca. Ada yang mengatakan “sulit”, “ribet”. Mereka tidak terbiasa melihat diagram dengan berbagi interkoneksinya. Padahal otak manusia memiliki jejaring neuron yang sangat amat ribet, tapi memiliki potensi yang luar biasa. Diagram yang diperkenalkan itu sangat sederhana bagi otak manusia, apabila mereka tidak dikuasai oleh rasa pesimis.

Syukurnya, banyak pembaca yang mampu melihat manfaat cara berpikir MindWeb Way dan menikmati hasilnya, baik berupa meledaknya daya kreatifitas mereka yang tinggi, kemampuan mencegah masalah sebelum terjadi dengan antisipasi, membuat keputusan yang jauh dari blunder (blunder sering terjadi karena kurangnya informasi terkait dengan cara berpikir tradisional), menarik kesimpulan dengan cepat, melatih intuisi, mencegah kepikunan dan banyak lagi manfaat lainnya.

MindWeb Way mengajak kita untuk mampu berpikir otomatis, tanpa mikir. Sebagian orang yang berkomentar:”Mana mungkin?”, persis seperti komentar orang tentang pesawat (besi) yang bisa terbang. Mereka berkomentar sebelum mempelajari metodenya. Sayang sekali, bukan?

Menanggapi ‘kesulitan’ yang dihadapi para pembaca, saya berusaha mencari jalan keluarnya. Usaha ini melahirkan temuan saya: MindWeb tanpa web. Kedengarannya aneh ya… kok MindWeb-nya tanpa ‘web’? Pembaca tidak perlu lagi pusing dengan diagram. Cukup dengan melihat interkoneksi (hubungan) antara dua hal saja setiap saat. Pasangan pasangan informasi itu akan dirangkai sendiri oleh otak kita menjadi satu rangkaian informasi didalam memori jangka panjang kita.

Ini ibaratkan membeli asset dengan angsuran (kredit), yang pada akhirnya akan lunas. Diagram diangsur sehingga akhirnya menjadi diagram komplit. Jadi, kita mempunyai pilihan, mau membeli asset dengan kredit atau cash. Menerapkan MindWeb Way juga memberikan kita pilihan, mau membuat diagram komplit atau dengan MindWeb tanpa web (Mini MindWeb). Asyik, ‘kan?

MindWeb tanpa web ini adalah salah saatu rahasia dari 7 Rahasia Berpikir Tanpa Mikir yang saya uraikan di dalam buku berjudul Berpikir Tanpa Mikir ala MindWeb – A Thinking Breakthrough.

Sebagian orang mengira bahwa buku Berpikir Tanpa Mikir adalah bentuk lain dari buku MindWeb. Keliru! Berpikir Tanpa Mikir adalah buku yang sangat berbeda dengan buku sebelumnya berjudul MindWeb. Ini adalah lanjutan dari buku sebelumnya (advance), yang jauh lebih sederhana sehingga sangat mudah dipahami. Tidak diperlukan IQ yang tinggi untuk mampu menerapkan cara berpikir tanpa mikir ini.

Computer melakukan proses pengolahan data berdasarkan program yang dibuat. Identik dengan itu, MindWeb Way merupakan program yang kita buat untuk diproses oleh otak kita. Salah satu kejutan yang ada pada 7 Rahasia Berpikir Tanpa Mikir adalah bentuk jejaring neuron otak manusia itu mirip sekali dengan diagram MindWeb. So what…..? Program MindWeb yang kita buat bisa diproses didalam jejaring neuron kita! MindWeb itu software-nya, dan otak kita adalah CPU-nya. Luar biasa, bukan?

Kenapa “tanpa mikir”? Proses ‘berpikir’ kita delegasikan kepada pikiran bawah sadar, yang mempunyai kapasitas yang hampir 9 kali lipat dari pikiran sadara. Pikiran sadar kita perlukan untuk mengendalikannya tanpa harus ‘berpikir’. Inilah konsep Berpikir Tanpa Mikir. (Berpikir tanpa mikir, bukan berpikir tanpa otak lho…..!)

Salam Berpikir Tanpa Mikir,

Eka Wartana

Founder The MindWeb Way

Author MindWeb (edisi Indonesia dan Inggris), Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking (in English)

Professional Licensed Trainer – MWS International

Experienced Professional (33 years in various managerial positions)

mindwebway.com

#mindwebway #themindweebway #ekawartana #berpikirtanpamikir #tothinkwithoutthinking #mindweb #berpikirotomatis #amazon #getscoop #Rahasiamindweb #secrets #neuron

Leave A Response »