Pleasure and Pain

admin 21/11/2016 2
Pleasure and Pain

Pleasure and Pain

Oleh: Eka Wartana

Ada quotes yang sangat menarik, yang berbunyi:

All humans are motivated to

  • seek pleasures and avoid pains
  • seek hope and avoid fear
  • seek social acceptance and avoid rejection “ (Hooked)

Semua manusia termotivasi untuk mencari kesenangan dan menghindari sengsara. Sudah banyak motivators yang mengungkapkan quote ini (sayangnya tanpa menyebutkan itu quote-nya siapa …..?). Prinsip Pleasure – Pain diperkenalkan pertama kali oleh Sigmund Freud, Psychoanalyst.

Prinsip dasar manusia mencari kesenangan dan menghindari sengsara ada benarnya juga ya? Tetapi, rasanya didalam kehidupan manusia kok ada yang tidak seperti itu ya. Konsep Interkoneksi The MindWeb Way selalu mengajak kita untuk melihat dari sisi yang lain:

  • Mencari sengsara, baik dengan sengaja atau tidak. (Seek pains by purpose or by mistake). Kok gak sadar dia, ya? Dia bermalas-malasan sehingga tidak punya uang untuk makan. Sudah itu mengeluh bahwa Tuhan tidak adil…(?!?). Ada yang menyakiti orang lain sehingga membuat orang lain sengsara. Ada yang membuat rakyat sengsara (lewat korupsi), akhirnya dia sendiri masuk penjara. (korban ganda).
  • Sengsara dulu, untuk senang kemudian (Seek pains for future pleasures). Kesenangan seringkali berawal dari ‘sengsara’. Contohnya, orang yang bekerja keras memeras keringat dan otak untuk masa depannya. Sengsara tidak selalu dihindari, bukan? Malah dicari…! Tujuan akhirnya tetap ‘senang’, tanpa mengharamkan ‘sengsara’.
  • “Mencari” sengsara akibat dari senang yang berlebihan (“Seek” pain as a result of excessive pleasures). Kesengsaraan seringkali berasal dari kesenangan. Tanpa disadari, orang hidup berfoya foya dimasa muda, kemudian sengsara di hari tua. Ada yang bermain api (asmara) dengan mantan pacar, akhirnya keluarganya berantakan.
  • Mencari sengsara dan senang, sekaligus (“Seek” pain and pleasure at the same time). Kesenangan bisa seiring dengan kesengsaraan. Orang berolahraga sampai letihpun tetap dirasakan nikmat. Dia ‘sengsara’ tapi senang.

Keringat bercucuran bermain tenis, bukan masalah baginya. Tapi kalau disuruh mengepel rumah…..? Keringatnya boleh sama banyak, tapi kok level senang-nya beda ya…..? Ngepel lantai, lebih sering terasa sebagai pain daripada pleasure….. (buat pembantu mungkin beda ya….dia akan sengsara kalau disuruh main tenis……).

Nampaknya, pleasures bisa berubah wujud menjadi jebakan menuju ‘sengsara’, dan pains berganti rupa menjadi mutiara menuju ‘senang’.

Bagaimana mengubah ‘sengsara’ menjadi ‘senang’? Sepertinya jawabannya mudah ya: ”Ya, nikmati aja kesengsaraannya!”. Maka kitapun akan menjadi senang. Tapi bagaimana menyenangi kesengsaraan….? Lagi lagi jawaban mudahnya:”Ganti aja kata ‘sengsara’ dengan yang lain!” Sengsara diganti menjadi senang yang tertunda, atau perjuangan menuju puncak gunung kesenangan……atau mencoba mengungkap, apa sih yang tersembunyi dibalik ‘sengsara’ ini? Sepertinya diperlukan perubahan sudut pandang ya? (reframing).

Dalam menghadapi semua situasi, hanya 10% yang tidak bisa kita apa-apakan. Sisanya yang 90% tergantung bagaimana kita menanggapinya. Teori ini diperkenalkan oleh pakar 7 Habits of Highly Effective People: Stephen Covey, yang dikenal dengan 90/10 Principle:

10% of life is made up of what happens to you…

90% of life is decided by how you react.

Jadi, 90% dari yang kita hadapi itu hasilnya tergantung dari cara kita memberi tanggapan terhadap situasi yang kita hadapi. Kendali ada di tangan sendiri.

Sengsara bisa kita hadapi dengan omelan, protes, keluhan. Atau kita hadapi dengan sikap optimis, mencari opsi opsi untuk mengatasi masalah, mencari informasi yang diperlukan, berkomunikasi dengan teman teman, dan langkah positive lainnya. Maka keduanya akan memberi hasil yang berbeda.

Baca selengkapnya: 90/10 Principle

Salam Berpikir Tanpa Mikir,

Eka Wartana,

Penulis buku BERPIKIR TANPA MIKIR ala MindWeb (telah beredar di Gramedia seluruh Indonesia)

mindwebway.com

2 Comments »

  1. Julia Deng 24/11/2016 at 7:32 am - Reply

    Keren pak Eka, metode berpikir tanpa mikir juga menggunakan konsep Yin Yang dalam penjabaran nya.

    • admin 04/12/2016 at 5:31 pm - Reply

      Iya, ya, Bu Julia Deng. Boleh bantu menjabarkannya untuk kami?
      Saya kurang mengerti tentang Yin dan Yang.
      Thanks a lot Bu Julia.
      Salam Berpikir Tanpa Mikir,

Leave A Response »