Menggugat Tuhan

admin 08/04/2016 0
Menggugat Tuhan

Menggugat Tuhan

Oleh: Eka Wartana, Penulis Buku “Berpikir Tanpa Mikir ala MindWeb”

Tuhan kok digugat, sih? Siapa hakimnya? Siapa penggugatnya? Yang menggugat adalah orang yang iri hati.

Masih adakah rasa iri bila semua orang bernasib sama?” Kiranya nasib yang sama tidak akan menghapus rasa iri. Orang yang egois selalu ingin memperoleh lebih untuk dirinya. Selama manusia masih hidup, iri hati cenderung tak hilang.

Dari sisi lain, kita bisa melihat bahwa iri hati bisa bersumber dari dua hal: perlakuan yang tidak adil (fakta) dan perasaan diperlakukan tidak adil (persepsi).

Sekiranya semua karyawan memperoleh gaji yang sama, akan adakah rasa iri hati? Tetap saja ada, karena mereka melihat adanya perbedaan tugas dan tanggung jawab, perbedaan skill, perbedaan performa kerja, perbedaan risiko kerja, perbedaan sikap atasan dan kolega terhadap dirinya. Jadi, iri hati tidak bisa dihilangkan dengan mengubah situasi dan kondisi. Tapi bisa dihilangkan dengan mengubah sudut pandang.

Awal tahun selalu ditunggu tunggu oleh karyawan. Biasanya, di awal tahun mereka memperoleh kenaikan gaji ataupun promosi jabatan. Urusan gaji seharusnya bersifat rahasia. Tapi pada kenyataannya, rahasia itu menjadi rahasia umum. Masing-masing mengetahui gaji satu sama lain.

Ketika menerima pemberitahuan kenaikan gaji, karyawan merasa sangat gembira. Tapi, lucunya, ketika dia tahu bahwa ada temannya mendapat kenaikan gaji yang lebih besar, dalam sekejap kegembiraannya sirna! Rasa gembiranya menjelma menjadi rasa iri hati! Rasa syukurnya menjadi hancur dihajar oleh “iblis iri”.

Begitu mudah sikap manusia berubahhanya karena adanya faktor pembanding. Padahal rasa syukur itu seharusnya bersifat mutlak, bebas dari pembanding, bebas dari sikap egois. Mengapa masih banyak orang yang bersikap plin-plan?

Orang yang kenaikan gajinya lebih kecil merasa iri terhadap karyawan lain yang kenaikan gajinya lebih besar. “Kerjanya aja gak becus, kok dia diberi kenaikan gaji lebih tinggi daripada aku?” begitu gumamnya dalam hati. Iri dianggapnya sebagai hal yang biasa dan dia tidak merasa bersalah tentang hal itu. Bersalahkan dia? Salah besar! Dia telah menggugat Tuhan. Lho, kok bisa? Mari kita bahas lebih lanjut.

Orang percaya bahwa Tuhan Maha Adil. Semua rezeki diberikan secara adil kepada setiap manusia. Keyakinan ini sudah mendarah daging di dalam hati dan pikiran umat beragama. Nah, ketika ada orang yang merasa iri hati, terlihat adanya kontradiksi. Di satu sisi dia mengakui bahwa Tuhan Maha Adil, di sisi lain dia iri hati terhadap orang lain yang nasibnya lebih baik daripada dia. Padahal rezeki itu sudah diatur oleh Tuhan. Kalau begitu, bukankah bisa diartikan bahwa merasa iri itu sama saja dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak adil? Dia telah menggugat kemahaadilan Tuhan! Berani-beraninya dia….

Dengan berpikir secara tradisional, seseorang hanya melihat sesuatu secara terbatas. Dalam hal iri hati ini, dia hanya berfokus pada dirinya dan membandingkannya dengan orang lain. Dia merasa bahwa dia harus selalu mendapatkan lebih dari orang lain.

Ketika masih aktif bekerja, saya selalu berusaha menjauhkan diri dari rasa iri terhadap karyawan lain. Kalau kolega mendapat kenaikan gaji yang lebih besar, rasa syukurlah yang saya tumbuhkan, sambil berpikir: ”Syukurlah, itu rezekinya. Rezekiku yang lebih besar lagi akan datang nanti. Hanya soal waktu saja.” Dengan begitu tidak ada beban emosional di dalam pikiran dan perasaan. Selalu ada rezeki yang lebih dari cukup untuk semua orang (abundance mentality, asas berkelimpahan). Jadi, mengapa harus berebut dan saling iri?

Ada satu hal lagi. Orang yang merasa iri itu sebenarnya telah mengondisikan dirinya sebagai korban yang selalu merasa kalah atau dikalahkan. Ini sungguh tidak disadarinya. Kalau begitu terus, kapan dia memiliki mental pemenang?

Seperti halnya dendam, iri hati juga menunjukkan adanya “missing link” dengan hal-hal penting lainnya. Dengan interkoneksi ala MindWeb, kita akan bisa melihat segala sesuatunya dari segi yang luas dan holistik (menyeluruh). Ketika melihat nasib orang lain lebih baik, seseorang menjadi lupa bahwa Tuhan itu Maha Adil. Karena Tuhan Maha Adil, dia tidak berhak untuk merasa iri.

Mengapa orang yang miskin sering kali tetap miskin? Salah satunya adalah mindset yang dipeliharanya: membenci orang kaya. Melihat orang naik Mercy, langsung timbul iri hatinya. Dengan merasa iri hati seperti itu dia tidak sadar bahwa dia sebetulnya bukan hanya benci terhadap orang kaya itu saja, tapi juga membenci kekayaannya, mobilnya dan hartanya. Dengan begitu, pikiran bawah sadarnya menyimpan ketidaksukaan pada harta. Nah, kalau begitu bagaimana kekayaan bisa dan mau menghampirinya? Jadi, kalau kita tetap berpikir positif terhadap orang orang yang lebih beruntung, tanpa iri atau benci terhadap keberuntungannya, maka kita membuka pintu kita sendiri pada keberuntungan.

Rasa iri hati adalah racun yang mengendap dalam pikiran bawah sadar kita, yang menebarkan energi negatif kepada orang lain dan kepada diri sendiri.

Interkoneksi yang terlewatkan oleh orang yang iri: Tuhan dan Ke-MahaAdil-anNya, Ikut Campur dengan urusan Tuhan, Rasa Syukur yang hilang, Beban Negatif (sampah emosi) yang terbawa terus-menerus.

Dengan konsep interkoneksi ini, selayaknya kita sudah punya sistem kontrol diri otomatis. Begitu timbul iri hati, langsung: ”Ups, stop! Ingat Tuhan itu Maha Adil!” Semakin sering kita melakukan kontrol diri seperti itu, semakin mudah kita melakukannya dengan otomatis, tanpa mikir.

Alangkah indahnya hidup kita apabila energi iri hati itu diarahkan pada energi yang positif untuk mencapai prestasi yang jauh lebih hebat.

Dikutip dari buku terbaru: Berpikir Tanpa Mikir ala MindWeb (Gramedia Pustaka Utama)

 

“Sadarkah kita bahwa dengan merasa iri hati, kita telah menggugat KeMahaAdilan Tuhan?”  MindWeb Way

Salam BTMaMW,

Eka Wartana

Leave A Response »