Perfeksionis

admin 25/08/2013 0

perfeksionis

Disadari atau tidak, sementara orang telah menciptakan stress nya sendiri dengan mengejar kesempurnaan bagi dirinya dan bagi orang lain.

Marilah kita perhatika orang disekitar kita, apakah itu ditempat kerja, dikampus atau dilingkungan keluarga. Ada gak orang orang yang maunya serba sempurna? Lukisan tidak boleh miring, biarpun cuma sedikitā€¦.. Kertas kertas dimeja harus tersusun rapi. Pekerjaan harus diselesaikan dengan sempurna, kesalahan sedikitpun tidak bisa ditolerirā€¦..

Bisa gak ya, orang yang perfeksionis seperti itu bisa hidup dengan tenang? Bagaimana ya orang orang lain yang hidup berdampingan dan yang bekerja bersama seorang perfeksionisā€¦? Bisa dibayangkan, bagaimana tingkat stress mereka. Yang perfeksionis akan tetap stress, orang yang bekerja dengan dia akan lebih stress lagi. Gak bisa dibayangkan ya kalau kita punya boss yang perfeksionisā€¦..

Nanpaknya kebutuhan akan kesempurnaan akan sulit untuk ā€˜berkawanā€™ dengan ketenangan batin. Keduanya bertolak belakang.

Dorongan keinginan untuk sempurna, membuat orang terfokus kepada kekurangan kekurangan baik kekurangan dari diri sendiri, apalagi kekurangan orang lain. Banyak para pemimpin yang merasa sangat kecewa dengan anak buahnya, kok tidak bisa mengerjakan pekerjaan seperti yang dia maui. Ada juga yang selalu mengomel terhadap pembantunya yang sering berbuat kesalahanā€¦(dia lupa bahwa kalau saja dia pintar, tentunya dia tidak jadi pembantu ā€˜kanā€¦..paling gak jadi Pembantu/Asisten Manager-lahā€¦.atau Pembantu Letnan.). Hidupnya akan selalu dipenuhi dengan rasa kecewa dan tidak pernah puas. Kalau begitu terus, kapan hidupnya bisa tenangā€¦dan kapan dia bisa bersyukurā€¦.? Memangnya enak hidup seperti ituā€¦?

Dulu saya cenderung bersikap seperti orang yang perfeksionis. Tapi rasanya kok tersiksa sendiri. Akhirnya saya mencoba untuk lebih toleran terhadap hal hal yang kurang sempurna. Nah, ternyata, hidup ini terasa jauh lebih indah dan damaiā€¦ā€¦.(apalagi setelah membaca buku Donā€™t Sweat Small Stuff, karangan Richard Carlson. Ini buku bagus buat orang yang perfeksionis)

Sementara kita ingin mengurangi ketegangan hidup akibat dari sikap perfeksionis, bukanlah berarti kita tidak mengejar sesuatu yang lebih baik. Kita tetap perlu menjaga performa yang tinggi. Di sisi lainnya, kita juga perlu menyadari bahwa manusia tidaklah sama. Anak buah kita tidaklah mungkin bisa menyamai ā€œkemampuanā€ dan kemauan kita. Dengan melatih anak buah supaya lebih terampil, membimbing mereka supaya senantiasa lebih baik kinerjanya, akan jauh lebih banyak memberikan ketenteraman batin buat kita sendiri.

Ada hal hal yang bisa kita ubahā€¦.ada yang tidak bisa kita ubahā€¦ā€¦

Terimalah kenyataan hidup dan hiduplah dengan tenteram dan damaiā€¦.termasuk berdamai dengan ketidak sempurnaanā€¦ā€¦..

Hanya Tuhan yang Sempurnaā€¦ā€¦ā€¦(rokokpun tidak Sempurna, tapi Sampurnaā€¦..;-)) ini bukan iklan lhoā€¦..)

Best regards,

Eka Wartana

Leave A Response »