Oleh: Eka Wartana
“Persediaan terbatas! Jangan sampai kehabisan!”
“Pesan sekarang juga!”
“Senin depan harga naik!”
Kalimat-kalimat ini sudah seperti lagu lama…
Bedanya, dulu orang panik.
Sekarang… orang scroll.
Di media sosial, versinya sedikit dimodifikasi:
“Klik like, subscribe, share supaya tidak ketinggalan update!”
“Dengarkan sampai selesai ya…”
Kalau boleh jujur… kita semua tahu ujungnya ke mana 😄
Dulu, strategi seperti ini cukup efektif. Kenapa?
Karena informasi terbatas.
Sekarang? Informasi bukan lagi terbatas…
Justru berlebihan.
👉 Konsumen hari ini bukan kekurangan pilihan.
👉 Mereka justru kelelahan memilih.
Menariknya, pendekatan “mendesak” ini masih banyak dipakai.
Padahal pertanyaannya sederhana:
Masih ada kah orang yang suka diperintah ketika mau beli sesuatu?
Bayangkan Anda masuk ke toko…
Belum sempat lihat-lihat, sudah disambut: “Cepat pak, ini barang terakhir!”
Reaksi Anda?
👉 Beli? 👉 Atau… kabur? 😄
Di dunia digital, versi “halusnya” seperti ini:
“Like dulu ya…”
“Subscribe sekarang…”
“Share ke teman-teman…”
Kalau kontennya bagus, biasanya kita lakukan itu… tanpa diminta.
Kalau kontennya biasa saja…meskipun diminta 5 kali, tetap tidak kita lakukan.
Ini yang menarik.
👉 Apakah marketing hari ini masih perlu “memaksa”?
👉 Atau justru perlu membuat orang “ingin”?
Ada pergeseran besar:
Dari:
Push marketing
Pressure selling
Menjadi:
Value-driven engagement
Trust-based influence
Contoh sederhana:
Konten yang bagus itu seperti kopi enak.
Tidak perlu dipaksa diminum. Orang akan cari sendiri.
Konten yang dipaksa?
Seperti obat pahit.
Minum karena terpaksa… bukan karena mau.
Ironisnya…
Semakin kita mendesak:
👉 “Jangan lupa like ya!”
👉 “Wajib subscribe!”
Semakin orang merasa:
👉 “Kenapa sih dipaksa?”
Lalu, apakah kualitas saja cukup? Belum tentu.
Karena dunia digital bukan hanya soal kualitas…tapi juga soal perhatian (attention).
Tanpa strategi, konten bagus pun bisa “tenggelam”.
Jadi, dilema nya:
👉 Terlalu mendesak → orang menjauh
👉 Terlalu pasif → tidak terlihat
Mungkin jawabannya bukan di ekstrem kiri atau kanan.
Tapi di sini: Membuat orang merasa ingin, bukan dipaksa
Karena pada akhirnya…
Orang tidak suka dijual.
Tapi mereka suka membeli.
Ada analogi sederhana.
Kalau mobil didorong (push),
arahnya bisa ke kiri, ke kanan….
Tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.
Tapi kalau mobil ditarik (pull),
arahnya mengikuti penariknya.
Lebih terarah. Lebih terkendali.
Begitu juga dengan marketing.
👉 Push marketing mencoba mendorong orang membeli
👉 Pull marketing membuat orang datang sendiri
Pertanyaannya:
Mau mendorong…
atau mau menarik?
Bagaimana menurut rekan-rekan?
Masih relevan kah cara lama ini?
Atau sudah waktunya berubah?
Salam Relative-Contradictive,
Eka Wartana
Founder, Master Trainer, The MindWeb Way of Thinking
Professional Licensed Trainer, MWS International
Author: Relative-Contradictive, Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking, MindWeb
Over 30 years of experience in various managerial positions
Website: www.mindwebway.com
#mindwebway #mindweb #berpikirtanpamikir #ekawartana #relativecontradictive #karyaanakbangsa #interconnection #sales #marketing #pushpull







