Oleh: Eka Wartana
Dalam komunikasi sehari-hari, kita sering berada di antara dua pendekatan:
basa-basi dan blak-blakan.
Yang satu terasa halus dan nyaman.
Yang satu lagi terasa jujur dan langsung.
Pertanyaannya:
Mana yang lebih efektif?
🌿 Basa-Basi: Hangat, tapi Tidak Selalu Jelas
Basa-basi sering menjadi “pelumas sosial”.
Contoh:
- “Nanti kita lihat ya…” (padahal maksudnya: tidak setuju)
- “Menarik juga idenya…” (padahal sebenarnya ragu)
Tujuannya:
- menjaga perasaan
- menghindari konflik
Namun risikonya:
- pesan tidak jelas
- membuka ruang salah tafsir
🔥 Blak-Blakan: Jelas, tapi sering kurang nyaman
Blak-blakan berarti menyampaikan apa adanya.
Contoh:
- “Saya tidak setuju.”
- “Hasil ini belum memenuhi standar.”
Keunggulannya:
- jelas
- cepat
Risikonya:
- bisa terasa kasar
- memicu sikap defensive
⚖️ Di antara keduanya: Assertiveness
Di sinilah assertiveness mengambil peran.
Assertiveness adalah kemampuan menyampaikan pikiran dan kebutuhan secara jelas,
tanpa mengabaikan perasaan orang lain.
🔍 Perbandingan sederhana
Gaya Basa basi
Ciri nya: halus, tidak langsung
Dampak nya: nyaman tapi ambigu
Gaya Blak-blakan
Ciri nya: langsung, tanpa filter
Dampak nya: jelas, tapi bisa melukai
Assertive
Ciri nya: jelas, empatik
Dampak nya: dipahami, diterima
🧠 Contoh 3 gaya yang berbeda
Situasi: Menolak ide dalam meeting
Basa-basi:
“Menarik juga sih… mungkin nanti kita pikirkan lagi…”
➡️ Pesan tidak jelas
Blak-blakan:
“Ide ini tidak bagus.”
➡️ Jelas, tapi bisa melukai
Assertive:
“Saya melihat ada beberapa risiko dalam ide ini.
Mungkin kita bisa mempertimbangkan alternatif yang lebih aman.”
➡️ Jelas, tapi tetap menjaga hubungan
🌏 Pengaruh budaya
Budaya juga mempengaruhi kecenderungan gaya komunikasi. Cara komunikasi orang dari Surabaya dan Medan misalnya, berbeda dengan cara orang Jawa Tengah. Yang satu suka bicara blak-blakan, yang lain nya penuh basa basi. Kedua nya memiliki kelebihan dan kekurangan.
Tapi komunikasi juga dipengaruhi oleh context nya.
- Budaya high-context → cenderung basa-basi
- Budaya low-context → cenderung blak-blakan
Assertiveness menjadi jembatan:
👉 tetap jelas
👉 tanpa melanggar norma sosial
🧠 Hubungan dengan Kecerdasan Emosional (EQ)
Assertiveness tidak bisa dilepaskan dari EQ.
- Tanpa EQ → blak-blakan jadi agresif
- Tanpa EQ → basa-basi jadi pasif
Dengan EQ:
- kita tahu kapan harus tegas
- dan bagaimana tetap menjaga perasaan
⚠️ Reaksi yang Mungkin Muncul
Terlalu basa-basi:
- orang bingung
- keputusan lambat
Terlalu blak-blakan:
- orang defensif
- hubungan terganggu
Assertive:
- pesan jelas
- hubungan tetap terjaga
- trust meningkat
💡 Insight
Basa-basi menghindari konflik
Blak-blakan memicu konflik
Assertiveness mengelola konflik
🎯 Kesimpulan
Masalahnya bukan memilih antara halus atau tegas.
Tapi:
bagaimana menjadi jelas tanpa menjadi keras,
bagaimana menjadi halus tanpa kehilangan makna.
Yang terlalu halus bisa disalahartikan.
Yang terlalu keras bisa ditolak.
Yang efektif adalah yang cukup jelas untuk dipahami,
dan cukup bijak untuk diterima.
Salam Relative-Contradictive,
Eka Wartana
Founder, Master Trainer, The MindWeb Way of Thinking
Professional Licensed Trainer, MWS International
Author: Relative-Contradictive, Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking, MindWeb
Over 30 years of experience in various managerial positions
Website: www.mindwebway.com
#mindwebway #mindweb #berpikirtanpamikir #ekawartana #relativecontradictive #karyaanakbangsa #interconnection #basabasi #blakblakan #assertive #komunikasi







