Misguided Learning – Kok ‘Ditelan’ Mentah-Mentah

Eka Wartana 22/04/2026 0
Misguided Learning – Kok ‘Ditelan’ Mentah-Mentah

Oleh: Eka Wartana

Memang praktis ya kalau makanan ditelan mentah mentah. Tidak perlu minyak goreng, tidak perlu gas untuk memasak. Ketika makanan disantap sih tidak terjadi apa apa. Tapi kita tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya di dalam perut…..Perut bisa jadi error.

Bagaimana dengan pengetahuan yang ditelan mentah mentah?

Tanpa filter oli, mesin akan jebol. Tanpa filter ‘berpikir kritis’, otak manusia akan error.

Apa yang diajarkan, langsung diterima sepenuhnya begitu saja. Logika di bypass. Itu sama saja dengan tanpa logika. Pada hal bypass logika bisa lebih parah dari pada bypass jantung….

Kemana larinya si Critical thinking

Beberapa contoh misguided learning dibawah ini sebenar nya dulu pernah saya bahas. Heran nya kok masih aja ada orang, termasuk trainer yang tidak mengerti dan masih mengulang kesalahan yang sama. Ini menjadi pemicu untuk membahas nya kembali.

Mehrabian’s Rule 7-38-55 

Banyak trainers, speakers yang dengan penuh keyakinan ‘mengajarkan’ peserta nya tentang The Art of Non Verbal Communication, memakai Mehrabian Rule 7-3855 Efektifitas komunikasi itu katanya tergantung dari verbal (kata kata yang diucapkan) 7%, intonasi suara (vocal pitch, volume, speed) 38%, body language (facial expression, posture, gestures) 55%.

Formula 7%-38%-55% itu sering digeneralisir oleh banyak orang untuk semua jenis komunikasi. Padahal itu keliru dan sudah diklarifikasi oleh Prof Mehrabian sendiri. Formula itu diterapkan hanya untuk hal hal yang menyangkut emosi, sikap atau perasaan interpersonal.

Bayangkan ketika seorang Professor yang mengajarkan theory ekonomi atau technic bertingkah laku seperti “dancing robot sewaktu mengajar. Sangat tidak masuk akal dan sama sekali tidak efektif. Apa yang diucapkan (verbal) oleh sang Professor itu lah yang utama. Bukan body language nya.  Jadi, dalam kasus seperti ini, rumus nya bisa terbalik: verbal nya yang dominan.

Lain hal nya dengan guru menari. Yang paling dominan adalah kinestetik nya. Beda lagi dengan pantomim, verbal dan intonasi nya malah nol.

Jadi, tidak semua komunikasi, presentasi memakai formula 7-38-55.  

Akibat dari misguided lessons ini:

Banyak trainers, motivators yang sibuk sekali mengerakkan semua anggota tubuh nya (tangan, badan, leher, kepala, kaki, dll) demi memenuhi percentage rumusan Mehrabian yang keliru dimengerti.

Dan parah nya, gerakan kinestetis nya tidak sejalan dengan makna dari komunikasi verbal nya. Akibat nya peserta lebih fokus pada tingkah laku si trainer itu daripada konten yang dibicarakan nya.  

Semoga peserta nya melihat mereka sebagai pengajar, bukan penari……

Masterpiece

Ini satu lagi ajaran yang tidak masuk di akal: “My masterpiece is in the future”. Ungkapan ini dikaitkan orang dengan pelukis terkenal Salvador Dalí. Tapi kok tidak ada referensi yang pasti bahwa itu memang ucapan dia.

Cara berpikir Dalí yang khas: Karya terbaik bukan yang sudah dibuat, tapi yang belum dibuat. Tidak pernah merasa sudah mencapai puncak.

Nah, kalau masterpiece nya itu ada di in future terus….tidak akan pernah ada masterpiece, dong! Masa depan itu selalu berada di depan, tidak pernah menjadi ‘sekarang’.

Kenapa tidak membuat masterpiece (mahakarya) sekarang? Kenapa menunggu masa epan terus, yang tidak pernah datang? Nanti nya gimana, ya? Ya, buat saja lagi masterpiece masterpiece lain nya. Memang nya masterpiece hanya boleh satu saja?

Seorang pelukis mampu membuat beberapa mahakarya. Contoh nya, Leonardo da Vinci dengan masterpiece nya Monalisa, The Last Supper, Vitruvian Man, dll . Selain itu dia juga punya mahakarya ilmiah seperti design awal pesawat terbang, parasut, tank, helikopter.

Dalam bidang film, Steven Spielberg mempunyai beberapa masterpiece: Schindler’s List, Jurassic Park, Saving Private Ryan. Banyak lagi tokoh tokoh lainnya mampu menghasilkan beberapa masterpiece.

Akibat dari misguided lessons ini:

Orang cenderung membuat karya yang biasa biasa saja sekarang ini. Toh masterpiece nya akan datang di masa depan…… Tidak ada motivasi untuk ‘doing your best’. Secara tidak sadar hal ini mendorong penundaan (procrastination) untuk pencapaian  karya terbaik nya.

Kunci Sukses: EQ 80%, IQ 20%

Ini lagi kekeliruan yang banyak dibuat orang. Teori yang keliru itu ternyata dikutip dan diajarkan dalam banyak training dan artikel. Padahal kesalahan itu sudah dibantah oleh tokoh Emotional Intelligent, Daniel Goleman pada thn 2006. Beliau mengatakan bahwa tulisan  di dalam buku nya di salah-mengerti oleh banyak orang. Persisnya begini kata beliau:

Unfortunately, misreading this book has spawned some myths, which I would like to clear up here and now. One is the bizarre (aneh)—though widely repeated—fallacy that “EQ accounts for 80% of success. This claim is preposterous(tidak masuk akal)

Daniel Goleman hanya mengatakan bahwa IQ menentukan sekitar 20% kesuksesan seseorang. Lalu secara sempit disesatkan menjadi: sisanya yang 80% ditentukan oleh EQ.

Dengan logika sederhana saja pernyataan itu tidak masuk akal. Apa hanya dua faktor itu saja, EQ dan IQ, yang menentukan sukses seseorang? Masih banyak faktor yang memengaruhi sukses seseorang seperti: AQ (Adversity Quotient), SQ (Spiritual Quotient), kesempatan (chances), keberuntungan (luck), Koneksi dan lain nya.  

Peranan EQ memang sangat penting dalam jenjang karier seseorang. Terutama untuk bidang sales/marketing, customer relations, HR, EQ sangat penting.

Lain lagi dengan bidang accounting, technical, IT, peran IQ sangat penting untuk kesuksesan karier nya yang memerlukan IQ tinggi.

Jadi, kenapa mempertentangkan kedua nya? Kenapa tidak di-sinergikan saja?       

Akibat dari misguided lessons ini:

Orang mengabaikan faktor faktor penting lainnya untuk bisa sukses: AQ (Adversity Quotient), SQ (Spiritual Quotient), kesempatan (chances), keberuntungan (luck), Koneksi dan lain nya. Fokus ke EQ saja atau IQ saja tidak menjamin sukses seseorang.

Pembelajaran

  • Dalam learning, berhati hati lah dengan ada nya blind spot, sudut sudut yang tidak terlihat yang bisa membuat kesimpulan salah (seperti ketika mengemudi mobil). Olah dulu ilmu yang dipelajari dengan logika dan fakta. Bersikap lah kritis tanpa harus negative.
  • Hindari hanya copy-paste tanpa melakukan verifikasi.
  • Cobalah melihat dari sisi yang berbeda untuk “menguji” apa yang dipelajari.

“Menelan sesuatu mentah mentah, bisa menyebabkan muntah muntah”

Disclaimer:

Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan atau pun memojokkan siapa pun. Tujuan artikel ini adalah untuk meluruskan kesalahan yang masih banyak dilakukan oleh orang orang ketika memberikan pelatihan.

Semoga tidak ada lagi orang yang tersesat karena pelajaran yang keliru.

Salam Relative- Contradictive,

Eka Wartana

Founder, Master Trainer, The MindWeb Way of Thinking

Professional Licensed Trainer, MWS International

Author: Relative-Contradictive, Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking, MindWeb

Over 30 years of experience in various managerial positions

Website: www.mindwebway.com

#mindwebway #mindweb #berpikirtanpamikir #ekawartana #relativecontradictive #karyaanakbangsa #interconnection #mehrabian #EQIQ #masterpiece

Leave A Response »