Sabotase Suksesi

Eka Wartana 10/03/2026 0
Sabotase Suksesi

Oleh: Eka Wartana

Sabotase bisa terjadi di mana-mana. Dalam bidang politik, sosial, militer, bahkan di perusahaan pun muncul sabotase juga.

Perusahaan selayaknya memiliki program succession planning. Untuk posisi posisi penting, perusahaan menyiapkan orang ke dua untuk menutupi kekosongan ketika pejabat yang berangkutan berhenti. Berhentinya seorang pejabat bisa karena dibajak oleh perusahaan lain, atau karena pindah ke posisi lain, atau karena sudah pensiun. Ada satu lagi sebabnya: diberhentikan karena kesalahan berat.

Dengan ada nya program suksesi, kelancaran Perusahaan bisa dipertahankan. Sayang nya, program suksesi ini sering terhambat. Apa sebabnya? Adanya sabotase! Oleh siapa? Karyawan sendiri! Karyawan yang mana?

Ada dua jenis karyawan yang anti succession planning:

  1. Mereka yang kemampuan nya terbatas. Mereka sudah merasa nyaman dalam posisi nya yang sekarang dan takut akan tanggung jawab yang lebih besar karena memang tidak mampu.

Untuk mengamankan posisi nya, dia tidak mau mengembangkan bawahan nya. Boro boro berbagi ilmu dan pengalaman nya. Mereka malah ingin supaya bawahan nya tetap bodoh. Kehidupan nya penuh kekhawatiran digusur oleh bawahan nya yang lebih mampu.

  • Mereka yang sudah dekat masa pensiun nya. Tidak ada lagi harapan untuk promosi karena masa pensiun nya sudah dekat. Seharus nya dia menyiapkan langkah langkah untuk mempersiapkan calon pengganti nya. Tapi itu yang dia hindari. “Ngapain mempersulit diri sendiri. Kalau tidak ada orang yang bisa mnggantikan aku, maka kontrak ku akan diperpanjang terus oleh perusahaan”. Begitu jalan pikiran nya.

Mereka mencemaskan kehidupan nya ketika masa pensiun tiba: penghasilan berkurang, kekuasaan hilang, tidak punya pekerjaan. Orang orang seperti ini yang cenderung menderita post power syndrome.

“Semakin sombong orang ketika berkuasa, akan semakin menderita dia ketika kehilangan kekuasaan nya…..”

Ada satu lagi tipe karyawan, leader yang sesungguh nya mempunyai potensi untuk posisi yang lebih tinggi. Tapi dia selalu merasa khawatir jika nanti nya digusur oleh bawahan nya. Karena nya dia tidak mau membagi ilmu, pengalaman nya. Mereka lebih suka membagi semua ilmu ke belatung di alam kubur nya daripada berbagi untuk sesama manusia.

Sesungguh nya, orang tipe ini bukan hanya menyabot program suksesi perusahaan, tapi tanpa sadar dia telah menyabot masa depan nya sendiri! Kok bisa?

Ya, iyalah….Bagaimana dia bisa dipromosi kalau belum ada orang yang bisa menggantikan nya? Perusahaan tidak akan mau mengambil tindakan yang akan mengganggu kelancaran perusahaan.

“No successor, no promotion!”

Ada post bagus dari Pak James Gwee di IG yang membahas tentang promosi dan development. Beliau memberikan kutipan video bagus dari John Maxwell. (Ref: https://www.instagram.com/p/DVcTQGaEjZ1/)

Apa yang dibahas di IG Pak James Gwee itu sangat benar. Saya telah membuktikan nya ketika masih aktif bekerja dulu.

Dengan melakukan succession planning, kita sudah melakukan tindakan Problem Preventing: menghilangkan hambatan untuk promosi dan mencegah masalah kelancaran usaha perusahaan.

Saran:

  1. Selalu siapkan program suksesi, baik untuk diri sendiri maupun bawahan. Kembangkan potensi staff Anda dengan sungguh sungguh, karena hasilnya akan positif buat semua orang. Ketika Anda atau bawahan Anda dipindahkan, mereka sudah capable dan departemen Anda tetap berjalan dengan aman dan lancar.
  2. Menyabot succession planning, sama saja dengan menyabot diri sendiri. Tanpa adanya pengganti yang bisa diandalkan, maka promosi akan tertunda.
  3. Ketika sudah masa pensiun, janganlah menghambat karier orang yang lebih muda dengan melakukan sabotase. Berikan dukungan kepada mereka supaya mereka bisa lebih sukses dari kita.

Siapkan masa depan pasca pensiun, sejak mulai bekerja. Menyiapkan nya menjelang pensiun, sudah amat terlambat. Kuasai berbagi ilmu yang akan bisa menunjang kehidupan pasca pensiun. Setelah pensiun, kita akan mempunyai pilihan, apakah menjadi enterpreneur, trainer, konsultan dll.  

Salam Problem Preventing,

Eka Wartana

Founder, Master Trainer, The MindWeb Way of Thinking

Professional Licensed Trainer, MWS International

Author: Relative-Contradictive, Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking, MindWeb

Over 30 years of experience in various managerial positions

Website: www.mindwebway.com

#mindwebway #mindweb #berpikirtanpamikir #ekawartana #relativecontradictive #karyaanakbangsa #interconnection #successionplan #promotion

Leave A Response »