Mental Agility – A Meta Competency

Eka Wartana 27/02/2026 0
Mental Agility – A Meta Competency

Oleh: Eka Wartana

Kompentensi ini kurang dikenal oleh para leader. Bahkan tidak terlihat di dalam list Core maupun General competency.

Padahal, mental agility adalah salah satu competency level atas, meta-competency.

Di zaman sekarang ini, peran nya sangat vital. Kenapa?

Perubahan terjadi dengan sangat cepat. Leader tanpa mental agility competency akan kewalahan menghadapi kondisi yang sangat dinamis. Apalagi kalau dikaitkan dengan era VUCA yang serba berubah tanpa kepastian, lebih kompleks dan menimbulkan berbagai keraguan.

Suatu competency diklasifikasikan sebagai meta-competency karena sifat nya yang memengaruhi bagaimana competencies lain nya diterapkan. Competency ini tidak berdiri sendiri. 

Apa itu: Mental Agility?

Mental agility adalah kemampuan  untuk berpikir kritis, kreatif dan adaptive untuk menyelesaikan masalah dengan cepat dan efektif:

  •  Mengubah perspektif dengan cepat
  • Menyesuaikan pemikiran ketika kondisi berubah
  • Membuang asumsi yang kaku
  • Menanggapi situasi yang tidak pasti dengan cerdas

Orang yang bermental agility mampu berpikir dan mengerti dengan cepat.

Bisa dibayangkan bagaimana cepat dan akurat nya pikiran dapat beradaptasi tanpa kehilangan kejelasan nya. Kompetensi ini memungkinkan ada nya kemampuan untuk mengatasi stress, belajar hal hal baru dan tetap tenang dalam menghadapi tekanan.

(Agile: being able to move quickly and easily (nimble) or having a quick, intelligent mindOxford Dictionaries).

Mental agility termasuk meta-competency karena mental agility berperan dalam proses competency lain nya.

Komponen kunci dari mental agility meliputi:

  • Cognitive Flexibility: Mudah beradaptasi dalam cara berpikir maupun berperilaku terhadap situasi baru, perubahan dan situasi yang kompleks.
  • Rapid Problem-Solving: Mampu berpikir dengan cepat untuk mendapatkan solusi dalam situasi yang tidak terduga.
  • Mental Task-Switching: Kemampuan beralih dari satu tugas dan pemikiran yang berbeda dengan mudah.
  • Resilience and Re-framing: Ketangguhan dalam mengatasi masalah yang menghambat proses, belajar dari pengalaman tersebut dan melihat dari sudut pandang berbeda.

Mental agility berperan di atas keterampilan teknis maupun fungsional.

Sekilas sepertinya mental agility ini mirip dengan adaptability & flexibility competency?

Memang mirip tapi sangat berbeda. Ibaratkan saudara dalam keluarga. Tampang boleh mirip, tapi sifat dan kelakuan nya bisa berbeda jauh.

Mental Agility vs Flexibility

Seperti sebuah mobil, mental agility ini adalah mesin nya dan flexibility adalah stir nya. Tanpa stir, mobil tidak bisa diarahkan. Tanpa flexibility, mental agility sulit berkembang. Tanpa mesin, stir mobil tidak bergerak. Kedua nya tidak memerlukan persaingan, tapi sinergi.

Mental agility bekerja sebelum keputusan muncul.

Ia menentukan: bagaimana informasi dipahami, bagaimana asumsi dibentuk, bagaimana risiko dibaca, bagaimana kemungkinan masa depan diproyeksikan

🔍 Mental agility memengaruhi beberapa hal:

  • clarity (jernih vs kabur)
  • speed with accuracy (cepat tapi tidak ceroboh)
  • pattern recognition (pengenalan pola)
  • assumption awareness (kesadaran akan asumsi asumsi)

Tanpa mental agility, keputusan mungkin terlihat logis, tapi logikanya dibangun di atas asumsi keliru.

Flexibility bekerja saat dan setelah keputusan dibuat.

Ia menentukan: apakah keputusan bisa dikoreksi, apakah strategi bisa disesuaikan, apakah ego mengalah pada realitas

Tanpa flexibility: Keputusan awal mungkin benar, tapi dipertahankan terlalu lama sehingga berisiko menjadi tidak sesuai lagi.

Kesimpulan:

  • Mental agility mencegah masalah muncul.
    Flexibility mencegah masalah yang ada berkembang.
  • Mental Agility: Meta-competency (thinking level)

Flexibility: Adaptive competency (response level)

Flexibility competency berada pada level di bawah Mental Agility. Sekiranya kedua nya menghasilkan cognitive flexibility, beralih antar cara berpikir yang berbeda (logical, emotional, creative) dalam menghadapi situasi yang berubah atau tidak menentu.

Salam Relative- Contradictive,

Eka Wartana

Founder, Master Trainer, The MindWeb Way of Thinking

Professional Licensed Trainer, MWS International

Author: Relative-Contradictive, Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking, MindWeb

Over 30 years of experience in various managerial positions

Website: www.mindwebway.com

#mindwebway #mindweb #berpikirtanpamikir #ekawartana #relativecontradictive #karyaanakbangsa #interconnection #mentalagility #flexibility #competency #cognitive

Leave A Response »